Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Pengaruh Self Talk Terhadap Penurunan Body Dissatisfaction

Remaja yang paling banyak mencemaskan keadaan tubuh adalah remaja putri, terutama masalah berat badan. Remaja putri selalu membandingkan antara tinggi badan, berat badan dan bentuk tubuhnya dengan teman -teman sebaya. Perbandingan yang tidak memuaskan dapat menjadi sumber dari kekecewaan dan akhirnya dapat mengarah ke terbentuknya body dissatisfaction (ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh). Body dissatisfaction tidak hanya dialami oleh remaja yang mengalami obesitas saja tetapi tidak sedikit pula remaja yang memiliki berat badan ideal atau bahkan dibawah rata -rata juga mengalami body dissatisfaction. Pendapat ini dibuktikan oleh suatu studi di Amerika Serikat mengenai body-image para remaja. Penelitian ini menunjukkan hasil yang mengejutkan sekaligus menggelikan. Hampir 70% remaja putri yang menjadi sampel penelitian ini mengungkapkan keinginan mereka untuk mengurangi berat badannya karena merasa kurang langsing. Padahal, hanya 15% diantara mereka yang benar -benar menderita obesitas. Sebaliknya pada remaja putra, 59% menginginkan tubuh yang berisi karena merasa dirinya kerempeng meskipun hanya 25% yang memang benar-benar kerempeng (Intisari dalam Feizal, 1995 ).

Mengacu pada tugas-tugas perkembangan masa remaja (dalam Gunarsa, 2002), yang diantaranya adalah menerima keadaan fis iknya serta mengetahui dan menerima kemampuan sendiri, maka peneliti mencoba membantu remaja putri yang memiliki body dissatisfaction untuk lebih bisa menerima diri mereka secara fisik dan pada akhirnya mereka dapat mengembangkan diri secara optimal. Body dissatisfaction merupakan suatu bentuk pikiran yang tidak rasional sehingga terapi yang digunakan untuk menangani body dissatisfaction juga disesuaikan dengan keadaan tersebut. Terapi yang dipilih dalam penelitian ini adalah self-talk. Rimm dan Litvak (dalam Davis, 1995) menemukan bahwa self-talk yang negatif dapat menyebabkan timbulnya rangsangan fisiologis substansial. Akibat emosional dari self-talk yang tidak rasional adalah kecemasan, depresi, marah, rasa bersalah, dan merasa tidak berharga. Davis (1995) mena mbahkan bahwa bila self-talk itu dilakukan secara akurat dan berhubungan dengan realitas, berarti orang tersebut berfungsi dengan baik. Namun, bila tidak rasional dan tidak benar, maka orang tersebut dapat mengalami stres dan gangguan emosional. Berikut adalah contoh dari kalimat self-talk yang tidak rasional : “saya adalah orang yang paling gemuk di seluruh dunia”. Kalimat tersebut mungkin benar dan realistis bila orang yang bersangkutan benar-benar memiliki badan paling berat di seluruh dunia, dan sudah pasti orang tersebut diabadikan dalam Guiness Book of Record.

Zastrow mengatakan bahwa self-talk dapat memberi mood yang positif saat tubuh dalam keadaan yang lelah, dengan cara mengucapkan kata -kata atau kalimat dalam pikiran yang memiliki konotasi positif . Contoh kalimat yang dapat digunakan untuk keadaan ini “saya merasa sehat, kuat, bahagia” (Zastrow, 1979). Penjelasan mengenai manfaat self-talk diatas dapat dirangkum dalam
sebuah kalimat, yaitu : semakin positif kata -kata yang diucapkan pada diri maka perasaan yang mengikuti kalimat tersebut juga semakin positif. Self-talk dipilih karena self-talk merupakan bagian dari rational emotive behavior therapy yang bertujuan mengubah ide -ide tidak rasional menjadi ide yang rasional sehingga dapat merubah pandangan negatif mengenai perasaan dan keinginan untuk tampil cantik dengan berat badan proporsional sesuai dengan harapan – harapan dan tuntutan dari lingkungannya.

Self-talk sangat efektif untuk mengatasi masalah -masalah yang berkaitan dengan pikiran atau perubahan perilaku, tetapi ada beberapa hal yang harus diingat dan diperhatikan dalam pelaksanaan self-talk menurut Pearson (2001),
antara lain:

  1. Afirmasi atau self-talk positif sebaiknya menggunakan kata ganti orang pertama, misalnya “saya”, “aku”. Kita tidak selalu da pat mengontrol hal-hal yang terdapat dalam diri orang lain, oleh karena itu afirmasi dibuat untuk mengontrol hal yang dapat dikontrol, yaitu diri sendiri. Maksudnya adalah afirmasi berisi tujuan, keinginan, nilai-nilai dari diri sendiri, bukan orang lain.
  2. Afirmasi ditujukan pada saat ini dan sekarang, sebab jika afirmasi dibuat dalam bentuk masa yang akan datang, pikiran tidak sadar tidak akan menganggap penting untuk diproses “sekarang”. Setelah afirmasi dibuat dalam bentuk sekarang dan saat ini, misalnya “saya merasa sehat”, afirmasi dirubah
    dalam bentuk proses, misalnya “semakin hari saya merasa semakin sehat”.
  3. Membuat sebuah afirmasi yang realistis sehingga lebih dapat diterima oleh pikiran. Mulailah dengan hal kecil yang mudah dicapai lalu semakin lama semakin besar. Contohnya adalah “kontrol diriku cukup baik” tampak lebih realistis daripada “saya selalu dapat mengontrol diri setiap waktu”.
  4. Ucapkan afirmasi dalam bentuk kalimat positif, misalnya “saya makan makanan yang bergizi”
  5. Buat afirmasi yang singkat dan mudah diingat. Kata -kata yang berbentuk slogan lebih mudah diingat daripada kata -kata biasa.
  6. Ulangi afirmasi positif tersebut sesering mungkin sehingga pikiran positif akan menjadi suatu rutinitas atau kebiasaan.

Referensi :

Davis, M., E.R.Eshelman., M.McKay.(1995). Panduan Relaksasi dan Reduksi Stres. Jakarta Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Feizal,R.(1995). Studi Perbedaan Kecemasan antara Remaja Penderita Obesitas yang Mempunyai Body-image Positif dan Negatif. Skripsi, Surabaya : Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Tidak diterbitkan.

Gunarsa, S.D., Gunarsa, Y.S.(2002). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (cetakan sembilan). Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Pearson, J.E.(2001). Develop the habit of Healthy Self-talk ! (online)
http://healthyhabits.com/SelfTalk.asp . diakses 28 Agustus 2021.

Zastrow, C.(1979). Talk To Yourself : Using The Power Of Self -talk. USA : Prentice-Hall,Inc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *