Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenali Genophobia, Gangguan Pada Fobia Seks

Genophobia adalah rasa takut terhadap hubungan seksual, terutama penetrasi. Bukan merupakan jenis ketakutan biasa, mereka yang memiliki genophobia akan merasa panik, takut luar biasa, dan cemas terhadap hubungan seksual atau intimasi seksual. Mereka akan tetap merasa kesulitan untuk membedakan emosi tersebut. Akibatnya, sering kali penderita akan berusaha menghindari berbagai situasi seksual.

Genophobia juga dipicu oleh jenis fobia gangguan lain. Fobia-fobia tersebut antara lain :

  • Nosophobia : Ketakutan terserang penyakit atau virus
  • Gymnophobia : Ketakutan untuk telanjang atau melihat orang lain telanjang.
  • Heterophobia : Ketakutan terhadap lawan jenis
  • Tocophobia : Ketakuta untuk hamil atau melahirkan

Berikut ini beberapa faktor yang bisa menyebabkan fobia seks :

  1. Vaginismus : Fenomena otot-oto vagina mengencang tanpa disengaja saat penetrasi. Kondisi ini bisa membuat hubungan intim terasa sangat menyakitkan.
  2. Disfungsi ereksi : Kondisi ini terjadi ketika penis kesulitan mempertahankan ereksi.
  3. Pelecehan seksual : Di masa lalu (pelecehan seksual di masa lalu dapat menyebabkan ganggaun stres pasca trauma (PTSD) yang juga dapat memengaruhi fungsi seksual korban pelecehan).
  4. Ketakutan akan performa seksual
  5. Malu dengan bentuk tubuh sendiri : Perasaan malu karena penderitanya menganggao bahwa mereka mempunyai tubuh yang tidak bagus.
  6. Pernah menjadi korban pelecehan seksual rumit.

Gejala yang umumnya dirasakan penderita :

  • Rasa takut yang dialami oleh penderita fobi seks dapat memicu kemunculan gejala secara fisik dan psikologis.
  • Merasa takut, cemas, dan panik ketika melihat atau hendak melakukan hubungan seks
  • Timbul gejla fisik seperti pusing, kesulitan bernapas, jantung berdebar, berkeringat, dan mual saat melihat atau hendak melakukan hubungan seks.

Bisakah genophobia disembuhkan?

Cara mengatasi genophobia harus dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Sebagai contoh, jika fobia seks dipicu oleh vaginismus, pengobatan medis bisa membantu menghilangkan ketakutanmu.

Sementara itu apabila ketakutanmu disebabkan masalah psikologis, terapi bisa dijadikan pilihan. Beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi genophobia seperti terapi perilaku kognitif, terapi pemaparan, dan terapi seks. Perlu diingat, gejala yang dialami oleh masing-masing penderitanya mungkin akan berbeda satu sama lain

Segera berkonsultasi dengan dokter atau psikiater untuk mencari tahu kondisi yang mendasari terjadinya genophobia adalah keputudan yang dapat membantu.

 

Referensi :

Iqbal, M. Z., & Awan, S. N. (2016). Case study of genophobia and anxiety. J Depress Anxiety S, 2, 2167-1044.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *