Verbal abuse dapat didefinisikan sebagai “kata-kata yang menyerang atau melukai individu, kata-kata yang menyebabkan seseorang mempercayai pernyataan yang tidak benar, atau kata-kata yang berbicara salah tentang individu”. Verbal abuse adalah sejenis pukulan yang tidak meninggalkan bukti yang sebanding dengan memar pemukulan fisik. Verbal abuse seringkali lebih sulit dilihat karena jarang terdapat bekas luka yang terlihat kecuali telah terjadi kekerasan fisik. Meskipun verbal abuse tidak meninggalkan tanda atau bukti luar, korban verbal abuse biasanya menderita karena memiliki self-worth yang rendah dan self-esteem yang rendah. (Hasniza et al., 2012). Selain itu, verbal abuse juga merupakan bentuk dari emotional abuse yang ditujukan untuk menimbulkan penghinaan, penghinaan, atau ketakutan yang berlebihan (Yun et al., 2019).
Verbal abuse melibatkan interaksi verbal yang menyebabkan seseorang terluka secara emosional, sehingga mendorong mereka untuk mempertanyakan siapa mereka. Verbal abuse adalah cara seseorang untuk mengontrol dan mempertahankan kekuasaan atas orang lain. Bahkan, tidak jarang membuat korban verbal abuse merasa tidak mampu, bodoh, dan tidak berharga. Karena mereka telah didefinisikan oleh orang yang kasar secara verbal (Gordon, 2021). Selain itu, verbal abuse dapat menjadi lebih buruk daripada physical abuse karena merupakan kekerasan psikologis yang jauh lebih berbahaya karena menyerang emosional serta mental (Hasniza et al., 2012).
Verbal abuse tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis ataupun hubungan orangtua-anak tetapi juga terjadi dalam hubungan kerja lainnya, hubungan sosial, ataupun di tempat kerja (Pietrangelo, 2019). Ketika verbal abuse terjadi dalam hubungan romantis, dapat menjadi sangat membingungkan karena pasangan mungkin tidak selalu kasar dan perilaku verbal abuse mereka akan cenderung muncul perlahan seiring waktu. Akibatnya, ketika pelaku memperlakukan dengan penuh kasih dan lembut, korban bisa melupakan perilaku negatifnya. Pada akhirnya, korban mengabaikan pola verbal abuse atau membuat alasan untuk perilaku tersebut, dengan mengatakan bahwa pelaku hanya stres atau sedang mengalami masa sulit (Gordon, 2021).
Verbal abuse memiliki efek yang merugikan terhadap proses kognitif. Selain itu, korban verbal abuse juga mudah terdistraksi oleh lingkungan sehingga membuat hasil kinerja mereka buruk (Kochar et al., 2015). Verbal abuse diketahui dapat mempengaruhi keadaan psikologis korban seperti perasaan stres, marah, depresi, merasa terhina, kehilangan kepercayaan diri, dan harga diri (Lamichhane & Bae, 2020).
Ketika seseorang terlibat dalam hubungan yang verbally abusive, dapat membuat mereka lelah dan semua perkataan yang diucapkan terlihat normal. Padahal verbal abuse bukanlah sesuatu yang normal. Inilah perbedaan perkataan yang “normal” dan verbal abuse (Pietrangelo, 2019):
| Perkataan “normal” | Verbal abuse |
| Mereka tidak melakukan serangan pribadi yang melukai individu | Mereka menghina atau berusaha mempermalukan individu. |
| Mereka mendengarkan dan mencoba memahami posisi individu, bahkan ketika mereka sedang marah. | Mereka sering berteriak atau meneriaki individu |
| Jika terdapat perbedaan pendapat, mereka tidak mengancam atau menghukum individu | Ketika terjadi perbedaan pendapat, mereka akan memojokkan individu dan membuatnya merasa bersalah |
Terdapat banyak jenis perkataan verbal yang dapat ditafsirkan sebagai verbal abuse dan terdapat banyak interpretasi tentang apa yang merupakan verbal abuse. Bentuk-bentuk perkataan verbal abuse terdiri dari (Gordon, 2021):
- Blaming: Membuat korban percaya bahwa mereka bertanggung jawab atas perilaku kasar atau bahwa mereka pantas mendapatkan verbal abuse. Contoh: “Aku harus berteriak, karena kamu sangat tidak masuk akal dan keras kepala!”
- Criticism: Komentar kasar dan terus-menerus yang disengaja dan menyakitkan dilakukan dengan tujuan untuk membuat orang tersebut merasa buruk tentang diri mereka sendiri dan tidak konstruktif. Contoh: “Kamu selalu kesal tentang sesuatu, selalu berpura-pura menjadi korban. Itu sebabnya tidak ada yang menyukaimu.”
- Gaslighting: Pelaku membuat korban mempertanyakan penilaian dan pertanyaan mereka. Dapat membuat korban merasa bersalah dan meminta maaf untuk hal-hal yang bukan salahnya. Contoh: “Korban mengingat suatu peristiwa, kesepakatan, atau argumen dan pelaku menyangkal bahwa itu tidak terjadi sama sekali. Mereka memberi tahu korban bahwa itu semua hanyalah pikiran korban, mimpi, atau mengada-ada.
- Judging: Memandang rendah korban, tidak menerima mereka apa adanya, atau menuntut mereka pada harapan yang tidak realistis.
- Name-calling: Menggunakan panggilan bahasa kasar dan menghina yang merusak harga diri korban. Contoh: “Kamu tolol!”
- Threats: Pernyataan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti, mengendalikan, dan memanipulasi korban agar patuh. Contoh: “Kalo kamu ga ngelakuin itu, orang akan membenci kamu”
- Withholding or isolation: Menolak untuk memberikan kasih sayang atau perhatian, termasuk berbicara dan melihat korban, sehingga korban harus berusaha keras untuk mendapatkan perhatian.
- Accusations: Pelaku berulang kali menuduh korban melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan, sehingga membuat korban mempertanyakan apakah mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas.
Semoga bermanfaatt!!
Sumber Gambar: https://mashion.pk/how-to-identify-verbal-abuse/
Referensi:
Gordon, S. (2021, April 9). How to Recognize Verbal Abuse. https://www.verywellmind.com/how-to-recognize-verbal-abuse-bullying-4154087
Hasniza, C., Noh, C., Asma, W. I., & Talaat, W. (2012). Verbal Abuse on Children: Does It Amount to Child Abuse under the Malaysian Law? Asian Social Science, 8(6). https://doi.org/10.5539/ass.v8n6p224
Kochar, R., Ittyerah, M., & Babu, N. (2015). Verbal Abuse and Cognition in the Developing Mind. Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma, 24, 1–19. https://doi.org/10.1080/10926771.2015.982236
Lamichhane, A., & Bae, S.-H. (2020). Verbal Abuse Among Nurses Working in a Nepalese Government Hospital: Asia Pacific Journal of Public Health, 32(8), 440–446. https://doi.org/10.1177/1010539520965032
Pietrangelo, A. (2019, March 29). What Is Verbal Abuse? How to Recognize Abusive Behavior and What to Do Next. https://www.healthline.com/health/mental-health/what-is-verbal-abuse
Yun, J.-Y., Shim, G., & Jeong, B. (2019). Verbal Abuse Related to Self-Esteem Damage and Unjust Blame Harms Mental Health and Social Interaction in College Population. Scientific Reports, 9(1), 1–13. https://doi.org/10.1038/s41598-019-42199-6