Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

9 Sifat yang Erat Kaitannya dengan Overthinking di Malam Hari, menurut Psikolog

Psikolog: Overthinking di Malam Hari Erat Kaitannya dengan 9 Sifat Ini
Psikologi & Kesehatan Mental

Psikolog Menyebut Overthinking di Malam Hari
Erat Kaitannya dengan 9 Sifat Ini

Mengapa pikiran terasa begitu ramai justru saat lampu dimatikan? Para ahli menemukan pola kepribadian yang secara konsisten muncul pada orang-orang yang paling sulit menenangkan benak mereka di malam hari.

⏱ Baca ~9 menit ✦ Referensi: Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D. 📅 Diperbarui 2026
🌙
“Tidur adalah saat tubuh dan pikiran kita mengatur ulang diri. Ini membantu memori, suasana hati, kesehatan imun, dan energi.” — Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D., Psikolog & Media Advisor, Hope for Depression Research Foundation
✦ Poin Utama Artikel Ini
  • Malam hari adalah momen pertama yang sunyi bagi banyak orang — dan itulah mengapa pikiran justru mengambil alih.
  • Kelelahan membuat otak lebih sulit menjaga perspektif, sehingga kekhawatiran kecil terasa sangat besar.
  • Ada 9 sifat kepribadian yang paling sering dikaitkan dengan kebiasaan overthinking sebelum tidur.
  • Sifat-sifat ini bukan cacat — banyak di antaranya justru adalah kekuatan di bidang lain kehidupan.
  • Ada langkah konkret yang bisa membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas tidur.

Selama bertahun-tahun, budaya hustle mendorong kita untuk terus bergerak, bekerja keras, dan tidur hanya ketika semua pekerjaan selesai. Namun kini, pandangan itu perlahan berubah. Tidur bukan lagi kemewahan — tidur adalah kebutuhan biologis yang berdampak langsung pada kesehatan fisik maupun mental kita.

Masalahnya, tidak sedikit dari kita yang justru terjebak dalam pusaran pikiran begitu kepala menyentuh bantal. Otak mulai memutar ulang percakapan tadi siang, menyusun daftar tugas esok hari, atau mempertanyakan keputusan yang dibuat bertahun-tahun lalu. Apakah kamu sudah berkata hal yang tepat? Apakah seseorang tersinggung dengan sikapmu? Bagaimana jika presentasi besok tidak berjalan mulus?

Fenomena ini begitu umum hingga para peneliti dan psikolog memberi perhatian serius padanya. Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D., psikolog dan penasihat media dari Hope for Depression Research Foundation, menjelaskan mengapa malam hari menjadi medan perang bagi pikiran — dan mengidentifikasi sembilan sifat kepribadian yang paling sering muncul pada mereka yang rentan mengalaminya.

Mengapa Justru Malam Hari?

“Bagi banyak orang, malam hari adalah momen pertama yang tenang dalam sehari. Tidak ada gangguan, percakapan, atau kebisingan — sehingga pikiran memiliki lebih banyak ruang untuk muncul ke permukaan.”

— Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D.

Dari sudut pandang ilmu saraf, hal ini sepenuhnya masuk akal. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Therapy and Research menemukan bahwa berkurangnya stimulus eksternal di malam hari meningkatkan fokus internal, membuat kekhawatiran dan pikiran yang belum terselesaikan menjadi lebih menonjol. Otak kita, yang kekurangan masukan dari dunia luar, berbalik ke dalam.

Selain itu, kortisol — hormon stres utama dalam tubuh — diketahui memiliki puncak sekunder pada beberapa orang di penghujung malam, terutama bagi mereka yang mengalami stres kronis. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: stres meningkatkan kortisol, kortisol menunda tidur, kurang tidur memperparah stres, dan siklus terus berulang.

Satu faktor lain yang sering diabaikan: kelelahan. Saat energi kita hampir habis, otak kesulitan menjaga keseimbangan perspektif. Hal-hal yang sebenarnya kecil terasa seperti bencana besar, bukan karena situasinya berubah, melainkan karena kapasitas kognitif kita untuk menyaringnya telah berkurang.

73%
Penelitian yang dikutip Forbes menunjukkan bahwa 73% orang berusia 25–35 tahun adalah pemikir berlebihan yang kronis, sementara 52% orang berusia 45–55 tahun juga mengalami hal yang sama. Ini bukan masalah pribadi — ini adalah fenomena lintas generasi.

9 Sifat yang Erat Kaitannya dengan Overthinking di Malam Hari

Penting untuk dipahami: sifat-sifat berikut bukanlah kelemahan. Sebagian besar justru merupakan kekuatan di konteks kehidupan lainnya. Tujuan mengenalnya adalah untuk membangun kesadaran diri — bukan untuk mengubah siapa dirimu.

01 🔍

Sangat Reflektif & Suka Merenung

Orang yang secara alami berpikir mendalam cenderung meninjau kembali percakapan, keputusan, dan interaksi yang terjadi sepanjang hari. Di malam hari, refleksi yang sehat ini dapat berubah menjadi pemutaran ulang tanpa henti.

Menurut Dr. Lira de la Rosa, “Orang yang secara alami berpikir mendalam cenderung meninjau percakapan, keputusan, dan interaksi. Di malam hari, refleksi itu bisa berubah menjadi pengulangan yang terus-menerus.”

Perspektif Ilmiah: Penelitian dalam Behavioural Sleep Medicine menemukan bahwa ruminasi dan kekhawatiran adalah pola mental yang berbeda, namun keduanya memiliki dampak serupa terhadap kualitas tidur — menunda waktu tertidur dan meningkatkan frekuensi terbangun di malam hari.
02 🎯

Memberikan Tekanan Tinggi pada Diri Sendiri

Orang dengan standar pribadi yang sangat tinggi lebih mungkin mempertanyakan apakah mereka sudah melakukan cukup banyak hal atau apakah mereka membuat kesalahan. Kegelisahan intelektual ini membuat pikiran tetap aktif saat waktunya beristirahat.

Studi tahun 2019 dalam jurnal Cognitive Processing yang melibatkan lebih dari 600 orang dewasa menemukan bahwa kecenderungan perfeksionis, gejala kecemasan, dan kognisi terkait tidur yang disfungsional secara signifikan terkait dengan gejala insomnia.

Perlu Diingat: Harapan tinggi terhadap diri sendiri adalah tanda ambisi dan kepedulian. Namun tanpa mekanisme “mematikan” pikiran, energi positif ini bisa berbalik merugikan kualitas istirahatmu.
03 ❓

Tidak Nyaman dengan Ketidakpastian

Otak manusia secara evolutif dirancang untuk memprediksi ancaman potensial. Pada orang yang sangat tidak nyaman dengan ketidakpastian, otak mencoba “memecahkan” masalah di malam hari — memunculkan skenario demi skenario tanpa benar-benar menemukan jawaban.

Menurut Dr. Lira de la Rosa, “Jika tidak mengetahui apa yang akan terjadi terasa tidak nyaman, otak mencoba ‘memahaminya’ di malam hari. Ini sering berujung pada pikiran spiral yang sebenarnya tidak membawa jawaban.”

Ironi Kognitif: Semakin otak berusaha menciptakan kepastian, semakin besar rasa ketidakpastian yang dirasakan — sebuah lingkaran yang hanya bisa diputus dengan penerimaan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali kita.
04 🤝

Merasa Bertanggung Jawab atas Banyak Hal

Orang yang sangat peduli terhadap orang lain dan tanggung jawabnya sering membawa kekhawatiran tersebut hingga ke ranjang tidur. Mereka memikirkan berbagai skenario — bagaimana jika ada yang terlewat? Bagaimana jika seseorang kecewa?

Rasa tanggung jawab yang besar ini adalah tanda kepedulian yang tulus. Namun di malam hari, tanpa distraksi aktivitas, beban tersebut bisa terasa jauh lebih berat dari seharusnya.

Yang Perlu Dilakukan: Belajar membedakan antara tanggung jawab yang bisa diambil tindakan sekarang dan yang harus ditunda hingga esok hari. Menulis daftar “tugas esok” sebelum tidur terbukti membantu otak “melepaskan” kekhawatiran tersebut.
05 ⚡

Lebih Sensitif terhadap Stres

Setiap orang memiliki kapasitas stres yang berbeda. Individu yang sangat sensitif terhadap stres merasakan kekhawatiran kecil menjadi terasa jauh lebih besar, terutama saat malam hari ketika perlindungan dari aktivitas sehari-hari sudah tidak ada.

Penelitian dalam Psychoneuroendocrinology menemukan bahwa orang dengan kecemasan menunjukkan pola kortisol yang berubah, termasuk peningkatan di malam hari yang memicu pikiran berpacu. Ini bukan pilihan — ini adalah respons biologis yang nyata.

Kekuatannya: Sensitivitas terhadap stres sering beriringan dengan empati yang tinggi dan kemampuan mendeteksi masalah lebih awal dari orang lain — keterampilan yang sangat berharga dalam banyak profesi.
06 🫙

Menyingkirkan Perasaan Selama Siang Hari

Compartmentalizing — atau memisahkan emosi dari aktivitas — kadang merupakan taktik bertahan hidup yang diperlukan. Kamu mungkin mendapat kabar buruk di pagi hari tetapi tetap harus menyelesaikan pekerjaan. Perasaan itu disimpan sementara.

Masalahnya, emosi yang ditunda tidak hilang. Menurut Dr. Lira de la Rosa, “Ketika kamu sibuk dan tidak punya waktu memproses emosi, emosi itu cenderung muncul belakangan. Malam hari adalah saat perasaan-perasaan itu akhirnya mendapat perhatian.”

Strategi Malam: Luangkan 10–15 menit di sore hari untuk secara sadar “membuka” emosi yang disimpan — melalui jurnal, percakapan singkat, atau sekadar duduk diam dengan perasaanmu. Ini mencegah “ledakan” emosional saat hendak tidur.
07 🧩

Mencoba Memecahkan Segalanya Lewat Pikiran

Berpikir analitis untuk memecahkan masalah adalah kemampuan yang sangat berharga. Namun ada waktu dan tempat untuk menggunakannya — dan malam hari seharusnya bukan salah satunya. Orang yang terbiasa mengatasi tantangan dengan analisis mendalam sering kali membawa “mode kerja” ini hingga ke bantal tidur.

Para peneliti dari NuHu Therapy merekomendasikan “jam malam mental” — menetapkan waktu tertentu (misalnya pukul 20.00) di mana kamu berhenti menganalisis, memecahkan masalah, atau meninjau ulang hari. Memberi izin pada pikiran untuk beristirahat.

Ingat: Tidak semua masalah harus diselesaikan malam ini. Sebagian besar akan terlihat jauh lebih jelas — dan lebih mudah diselesaikan — setelah tidur yang berkualitas.
08 💻

Sulit “Mematikan” Pikiran Setelah Hari yang Padat

Hari yang penuh dengan pekerjaan, layar digital, dan aktivitas tanpa jeda membuat otak tidak mudah beralih ke mode istirahat. Pikiran tentang tugas dan daftar hal yang harus dilakukan “mengikutimu” ke tempat tidur.

Paparan layar di malam hari memperparah kondisi ini. Sebuah studi dalam BMC Psychiatry menunjukkan bahwa penggunaan ponsel atau laptop di malam hari secara signifikan memperkuat kecemasan, yang pada gilirannya mengorbankan kualitas tidur.

Solusi Sederhana: Ciptakan ritual “transisi” selama 20–30 menit sebelum tidur — tanpa layar digital. Mandi hangat, membaca buku fisik, atau latihan pernapasan bisa membantu otak memahami sinyal bahwa hari kerja sudah selesai.
09 ⭐

Memiliki Kecenderungan Perfeksionis

Perfeksionisme adalah salah satu faktor psikologis terbesar di balik overthinking. Orang dengan kecenderungan ini sering memutar ulang momen-momen masa lalu dan memikirkan apa yang seharusnya dilakukan secara berbeda. Pikiran terjebak dalam lingkaran “seandainya saja…”

Menurut Dr. Lira de la Rosa, “Orang yang sensitif terhadap kesalahan mungkin memutar kembali momen-momen lalu dan memikirkan apa yang seharusnya mereka lakukan berbeda. Ini bisa membuat pikiran terjebak dalam sebuah putaran.” Studi dari Psychology Today mengonfirmasi bahwa perfeksionisme dan tidur memang tidak berjalan berdampingan dengan baik.

Perspektif Penyeimbang: Perfeksionisme yang sehat mendorong pertumbuhan. Yang merugikan adalah ketika standar sempurna itu menjadi alasan untuk tidak pernah merasa “cukup baik” — termasuk di penghujung hari yang sebenarnya sudah dijalani dengan baik.
🌸

Cara Menghentikan Overthinking di Malam Hari

Kabar baiknya: mengenali sifat-sifat ini adalah langkah pertama yang paling penting. Setelah itu, ada strategi konkret yang didukung bukti ilmiah untuk membantu menenangkan pikiran di malam hari.

🌿 Strategi yang Direkomendasikan Psikolog

  • 📓
    Beri Pikiran Sebuah “Tempat” Lebih Awal Sebelum tidur, luangkan beberapa menit untuk menuliskan semua hal yang ada di pikiranmu. Jurnal harian membantu otak merasa bahwa pikiran-pikiran itu sudah “tersimpan” di suatu tempat, sehingga tidak perlu terus-menerus muncul kembali. Dr. Lira de la Rosa secara khusus merekomendasikan menulis daftar tugas esok hari sebagai cara efektif mengosongkan beban kognitif.
  • 🫁
    Fokus pada Tubuh, Bukan Pikiran Pernapasan lambat, peregangan ringan, atau sekadar memperhatikan bagaimana tubuhmu terasa di atas kasur dapat membantu mengalihkan perhatian dari kepala ke tubuh yang lebih tenang. Teknik grounding 5-4-3-2-1 juga sangat efektif: identifikasi 5 hal yang bisa kamu lihat, 4 yang bisa disentuh, 3 yang bisa didengar, 2 yang bisa dicium, dan 1 yang bisa dirasakan.
  • 🍃
    Biarkan Pikiran Berlalu, Jangan Dilawan Mencoba memaksa pikiran untuk diam biasanya justru berbalik. Alih-alih melawannya, amati saja pikiran itu, ingatkan dirimu bahwa kamu bisa kembali ke sana esok hari, dan perlahan alihkan perhatianmu. Ini adalah inti dari praktik mindfulness yang telah banyak didukung penelitian klinis.
  • 🌙
    Terapkan “Jam Malam Mental” Tetapkan waktu tertentu di malam hari — misalnya pukul 20.00 atau 21.00 — di mana kamu berhenti menganalisis, merencanakan, atau mengevaluasi hari. Ini melatih otak untuk secara bertahap beralih ke mode istirahat, bukan langsung “dimatikan” secara paksa.
  • 💬
    Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan Jika overthinking malam hari secara konsisten mengganggu tidur dan kualitas hidupmu, terapi kognitif-perilaku (CBT) — khususnya CBT untuk insomnia (CBT-I) — adalah pendekatan berbasis bukti yang sangat efektif. Penelitian dalam Behaviour Research and Therapy menemukan bahwa menangani kecemasan melalui terapi secara signifikan meningkatkan kualitas tidur, bahkan tanpa intervensi tidur langsung.
✦

Lebih dari Sekadar Kebiasaan Buruk

Penting untuk dipahami bahwa overthinking di malam hari bukanlah tanda kelemahan karakter atau kegagalan mengelola hidup. Ini adalah fenomena yang berakar dalam arsitektur otak manusia — terutama pada individu dengan kapasitas refleksi, empati, dan analisis yang tinggi.

Penelitian yang diterbitkan dalam SciELO Brazil dan dikonfirmasi oleh berbagai studi lanjutan menemukan bahwa ruminasi dan kecemasan sosial berperan sebagai mediator antara stres dan kualitas tidur yang buruk. Artinya, bukan stres itu sendiri yang langsung merusak tidur — melainkan cara kita memprosesnya secara kognitif.

Otak yang tidak pernah belajar “beristirahat dari memikirkan” juga bisa mengembangkan apa yang disebut para ahli tidur sebagai stimulus dyscontrol: kondisi di mana otak mulai mengasosiasikan tempat tidur dengan aktivitas mental alih-alih dengan mengantuk dan beristirahat. Ini adalah lingkaran yang bisa diputus — tetapi membutuhkan kesadaran dan latihan yang konsisten.

Yang tak kalah penting adalah pesan dari Dr. Lira de la Rosa: sembilan sifat ini bukanlah takdir. Mereka adalah pola — dan pola bisa dikenali, dipahami, dan dikelola. Banyak orang yang memiliki sifat-sifat ini justru menjadi pemimpin, seniman, ilmuwan, dan pemberi perhatian yang luar biasa. Kuncinya adalah belajar kapan harus menyalakan kapasitas analitis itu, dan kapan saatnya membiarkan pikiran beristirahat.

“Sifat-sifat ini bukan cacat atau tanda bahwa ada yang salah dengan dirimu. Banyak di antaranya justru adalah kekuatan di bagian lain kehidupan. Tujuannya bukan untuk mengubah siapa dirimu, tetapi untuk membangun kesadaran sehingga kamu dapat lebih baik memahami pikiranmu dan mendukung dirimu sendiri di malam hari.”

— Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D.
📋 Ringkasan: Yang Perlu Kamu Ingat
  • Malam hari adalah momen pertama yang sunyi bagi banyak orang, memberi ruang bagi pikiran untuk muncul ke permukaan.
  • Kelelahan memperburuk perspektif — hal kecil terasa besar bukan karena situasinya berubah, tapi karena kapasitas otak untuk menyaringnya berkurang.
  • 9 sifat — dari reflektif hingga perfeksionis — paling sering dikaitkan dengan overthinking malam hari, namun semuanya memiliki sisi positifnya.
  • Jurnal, mindfulness, dan membiarkan pikiran berlalu adalah tiga strategi utama yang direkomendasikan secara psikologis.
  • Jika gangguan tidur persisten, konsultasi dengan profesional kesehatan mental adalah langkah terbaik — bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk merawat diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *