Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

7 Perilaku yang Sering Menandai Duka yang Belum Terproses atau Terselesaikan, Menurut Psikolog

7 Perilaku yang Menandai Duka yang Belum Terproses, Menurut Psikolog
Kesehatan Mental · Psikologi

7 Perilaku yang Sering Menandai Duka yang Belum Terproses, Menurut Psikolog

Setiap orang berduka dengan cara yang berbeda — namun ada tanda-tanda tertentu yang perlu kita waspadai bersama.

🗓 Mei 2026
⏱ Baca ~8 menit
📚 Berbasis Riset Ilmiah

Kehilangan seseorang yang kita cintai — baik pasangan, anggota keluarga, sahabat, maupun hewan peliharaan tersayang — adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup manusia. Begitu pula dengan kehilangan lain yang sering luput dari perhatian: perceraian, kehilangan pekerjaan, atau perpisahan dari komunitas yang selama ini menjadi bagian dari identitas kita. Duka adalah respons yang sangat alami dan manusiawi terhadap semua bentuk kehilangan itu.

Namun ada sesuatu yang terjadi ketika duka tidak pernah benar-benar diproses. Rasa sakit itu tidak hilang begitu saja — ia bersembunyi, bermetamorfosis, dan akhirnya muncul dalam bentuk-bentuk yang seringkali tidak kita kenali sebagai bagian dari kesedihan. Inilah yang disebut para ahli sebagai unprocessed grief — duka yang belum terproses — atau dalam istilah klinis yang lebih spesifik: prolonged grief disorder (PGD).

✦ Poin Utama Artikel Ini
  • Duka yang belum terproses dapat termanifestasi sebagai perilaku berisiko, penarikan diri, atau penyangkalan.
  • Prolonged grief disorder kini diakui secara resmi dalam DSM-5-TR sejak 2022.
  • 7 tanda utama meliputi: bertindak impulsif, penyalahgunaan zat, menarik diri, menyangkal kehilangan, berpura-pura baik-baik saja, kemarahan intens berkepanjangan, dan rasa bersalah yang terus-menerus.
  • Mengenali tanda ini dan mencari bantuan profesional adalah langkah penting menuju pemulihan.
84%
orang yang pernah mengalami kehilangan melaporkan bahwa hal tersebut berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari mereka, menurut riset tahun 2024.

Riset yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association mengonfirmasi bahwa prolonged grief disorder ditandai oleh kesedihan intens dan persisten yang tidak hanya menyakitkan, tetapi juga secara nyata mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Kondisi ini resmi masuk dalam revisi teks DSM-5 (DSM-5-TR) pada tahun 2022 — sebuah pengakuan bahwa duka yang berkepanjangan bukan sekadar kelemahan pribadi, melainkan kondisi klinis yang membutuhkan perhatian.

Sebuah studi ilmiah tahun 2012 yang diterbitkan dalam jurnal Dialogues in Clinical Neuroscience menemukan bahwa sekitar 7% dari orang yang berduka mengalami bentuk kesedihan yang berkepanjangan ini. Angka tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika kita bayangkan skala global dari kehilangan yang terjadi setiap harinya, jumlah sesungguhnya sangatlah besar.

Grief is not a ‘one and done’ experience — bersiaplah untuk merasakannya pada berbagai titik dan dalam berbagai periode waktu.

— Dr. Brandy Smith, PhD, Psikolog Klinis, Thriveworks

7 Perilaku yang Sering Menjadi Tanda Duka yang Belum Terproses

Dr. Brandy Smith, PhD, psikolog berlisensi dari Thriveworks di Birmingham yang mengkhususkan diri dalam penelitian duka, mengidentifikasi tujuh perilaku kunci yang sering kali muncul pada seseorang yang mengalami duka yang belum terproses. Berikut penjelasan mendalam dari masing-masing tanda tersebut, diperkaya dengan wawasan dari berbagai penelitian psikologi terkini.

Tanda 01
Bertindak Impulsif dan Perilaku Berisiko

Salah satu tanda yang paling mengejutkan dari duka yang belum terproses adalah munculnya perilaku impulsif atau berisiko — seolah seseorang tidak lagi peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri. Menurut Dr. Smith, ini bisa terlihat dalam bentuk mengemudi ugal-ugalan, mengambil keputusan finansial yang ceroboh, atau bertindak agresif dalam interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Di balik tindakan-tindakan ini sering tersembunyi sebuah perasaan yang tidak diucapkan: “mengapa harus peduli?” Kehilangan telah mencabut makna dari kehidupan sehari-hari, dan perilaku berisiko menjadi manifestasi dari kekosongan tersebut. Penelitian dari Dialogues in Clinical Neuroscience menggambarkan ini sebagai periode “aktivitas kompulsif tanpa rasa kehilangan” — seseorang tampak bergerak, bahkan sangat aktif, namun sesungguhnya berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan yang bermakna.

💡 Perlu diketahui: Agresi dalam konteks ini bukan berarti kejahatan. Ini adalah sinyal bahwa rasa sakit yang dalam sedang mencari jalan keluar yang salah.
Tanda 02
Peningkatan Penggunaan Zat atau Alkohol

Duka yang belum terproses dan penyalahgunaan zat memiliki hubungan yang sudah lama diteliti dalam dunia psikologi. Dr. Smith menjelaskan bahwa beberapa orang yang mengalami duka yang belum terselesaikan beralih ke alkohol atau obat-obatan sebagai upaya untuk “mematikan” atau memutus koneksi dari rasa sakit kehilangan.

Yang berbahaya dari mekanisme koping ini adalah sifatnya yang sementara. Ketika efek zat hilang, realitas kehilangan tetap ada — bahkan seringkali terasa lebih berat. Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di Journal of Substance Abuse Treatment mengonfirmasi bahwa individu dengan complicated grief memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan penggunaan zat. Psychology Today juga mencatat bahwa salah satu faktor yang sangat berkaitan dengan perkembangan SUD (substance use disorder) adalah trauma masa kecil, termasuk kehilangan orang yang dicintai di usia dini.

💡 Riset dari Frontiers in Psychology menemukan bahwa penarikan diri secara sosial dan penggunaan zat adalah dua strategi koping yang paling kuat kaitannya dengan complicated grief.
Tanda 03
Tidak Kembali Terlibat dalam Kehidupan

Seseorang yang mengalami duka yang belum terproses mungkin akan mulai menarik diri dari kehidupan sosial. Mereka mungkin masih pergi ke luar rumah untuk keperluan mendasar, namun Dr. Smith menggambarkan kondisi ini sebagai gaya hidup “pertapa” — melakukan hanya apa yang diperlukan, lalu kembali ke dalam “cangkang” atau “gua” figuratif mereka.

Ini bukan sekadar introversion atau kebutuhan akan kesendirian yang sehat. Ini adalah penarikan diri yang didorong oleh rasa sakit yang tidak tertanggung — sebuah perlindungan diri yang justru mengisolasi. Menurut American Psychiatric Association, kesulitan dalam mengelola hubungan interpersonal dan penarikan diri sosial adalah salah satu gejala inti dari prolonged grief disorder. Penelitian juga menunjukkan bahwa isolasi sosial ini dapat memperburuk kondisi secara signifikan, karena memutus akses seseorang dari sistem dukungan yang justru paling dibutuhkan dalam proses pemulihan.

Tanda 04
Tidak Mengakui atau Menyangkal Kehilangan

Tanda ini mungkin yang paling halus namun paling dalam dampaknya. Seseorang dengan duka yang belum terproses mungkin bertindak seolah-olah kehilangan itu tidak pernah terjadi. Mereka menghindari menyebut nama orang yang telah pergi. Mereka menjauh dari tempat, benda, atau percakapan apa pun yang mengingatkan mereka pada kehilangan tersebut.

Menurut Dr. Smith, logika di balik perilaku ini sederhana namun menyakitkan: “Jika tidak diakui, maka itu tidak nyata — atau setidaknya tidak harus dihadapi.” Psychology Today menggambarkan pola ini sebagai salah satu gejala inti dari prolonged grief: menghindari pengingat tentang kenyataan kehilangan. Paradoksnya, penghindaran ini justru mengabadikan luka. Duka yang dipendam tidak lenyap — ia hanya berubah bentuk, sering kali menjadi kecemasan, depresi, atau gejala fisik yang tidak terjelaskan.

💡 Penelitian menunjukkan bahwa penolakan untuk menerima kematian atau kehilangan adalah salah satu prediktor terkuat dari prolonged grief disorder.
Tanda 05
Berpura-pura Baik-baik Saja Sepanjang Waktu

Ada sebuah topeng yang dikenakan oleh banyak orang yang berduka: “Saya baik-baik saja.” Mereka menjalani rutinitas seolah tidak ada yang berubah. Mereka menjawab pertanyaan “Bagaimana kabarmu?” dengan senyuman dan jawaban standar. Di luar, segalanya tampak normal. Di dalam, ada lubang yang sangat dalam yang tidak pernah diakui keberadaannya.

Dr. Smith menyebut ini sebagai “masking” — seseorang yang secara konsisten mengatakan mereka baik-baik saja, tidak membutuhkan apa pun, dan terus berjalan seperti biasa, padahal sesungguhnya mereka tidak mengakui perubahan yang telah dibawa oleh kehilangan tersebut. Ini adalah bentuk duka yang sangat melelahkan karena membutuhkan energi luar biasa untuk mempertahankan fasad tersebut setiap harinya. Verywell Mind mencatat bahwa ini bisa menjadi bentuk penghindaran yang sangat berbahaya karena justru menunda proses penyembuhan yang sesungguhnya.

Tanda 06
Kemarahan yang Intens dan Berkepanjangan

Marah setelah kehilangan adalah hal yang sangat normal — ini adalah salah satu dari lima tahap duka yang sudah lama dikenal. Namun ada perbedaan mendasar antara kemarahan yang merupakan bagian dari proses berduka yang sehat, dan kemarahan yang intens, terus-menerus, serta tidak kunjung mereda.

Menurut Dr. Smith, kemarahan berkepanjangan ini menandakan bahwa seseorang “tetap berada di satu tingkat pengalaman dan tidak bergerak melampaui atau lebih dalam.” Mereka terjebak. Penelitian dari EBSCO Research yang bersumber dari studi psikologi menunjukkan bahwa kemarahan ekstrem atau persisten merupakan salah satu tanda dari reaksi duka yang tidak normal. Kemarahan ini sering kali diarahkan kepada orang-orang di sekitar, kepada Tuhan atau alam semesta, atau bahkan kepada orang yang telah meninggal — sebuah ekspresi dari rasa tidak berdaya yang tidak tersalurkan.

💡 American Psychiatric Association mencatat bahwa rasa sakit emosional yang intens, termasuk kemarahan yang tidak mereda, adalah salah satu gejala yang mendefinisikan prolonged grief disorder.
Tanda 07
Rasa Bersalah yang Terus-menerus

Rasa bersalah adalah teman setia dari duka. “Seandainya saya lebih sering menelepon.” “Mengapa saya tidak ada di sana saat itu?” “Apa yang seharusnya saya lakukan berbeda?” Pikiran-pikiran ini datang hampir kepada semua orang yang berduka. Namun pada mereka yang mengalami duka yang belum terproses, pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah berhenti — mereka membentuk spiral yang tidak berujung.

Dr. Smith menjelaskan bahwa rasa bersalah yang berkepanjangan ini menjebak seseorang dalam skenario “bagaimana jika” yang mencegah mereka dari kemampuan untuk mengintegrasikan apa yang terjadi dan menemukan jalan untuk melangkah maju. Ini bukan tentang menemukan jawaban — karena dalam kebanyakan kasus, tidak ada jawaban yang memuaskan. Ini tentang belajar hidup dengan ketidakpastian dan menerima bahwa kita semua melakukan yang terbaik dengan apa yang kita ketahui saat itu.


🌿 Siapa yang Lebih Rentan Mengalami Prolonged Grief?
  • Mereka yang kehilangan orang tua, pasangan, anak, atau saudara kandung secara mendadak atau tidak terduga
  • Individu yang pernah mengalami trauma masa lalu atau kondisi kesehatan mental yang mendasar seperti kecemasan atau depresi
  • Mereka yang menjadi pengasuh utama dari orang yang telah meninggal
  • Orang yang pernah mengalami banyak kehilangan dalam waktu singkat
  • Anak-anak dan remaja yang mengalami banyak kehilangan, yang menurut Psychology Today menempatkan mereka pada risiko lebih tinggi untuk penyalahgunaan zat di kemudian hari
  • Individu yang tidak memiliki sistem dukungan sosial yang kuat

Penting untuk dipahami bahwa rentan terhadap prolonged grief disorder bukan berarti lemah. Sebaliknya, ini sering kali berarti bahwa seseorang mencintai dengan sangat dalam, atau menghadapi kondisi kehilangan yang luar biasa berat. Stigma seputar ketidakmampuan untuk “move on” harus dihapuskan — karena dalam banyak kasus, yang diperlukan bukan tekad yang lebih kuat, melainkan dukungan yang lebih tepat.

Lebih jauh lagi, prolonged grief disorder yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi komplikasi kesehatan yang serius. Cleveland Clinic mencatat bahwa kondisi ini berkaitan dengan depresi, PTSD, dan bahkan masalah kesehatan fisik seperti penyakit jantung. Ini bukan sekadar masalah emosional — ini adalah masalah kesehatan yang nyata dan perlu mendapatkan perhatian yang sama seperti kondisi medis lainnya.

Bagaimana Memproses Duka dengan Cara yang Sehat?

Mengenali bahwa duka belum terproses adalah langkah pertama — dan itu membutuhkan keberanian yang luar biasa. Berikut adalah langkah-langkah konkret yang direkomendasikan oleh Dr. Smith dan didukung oleh penelitian psikologi terkini:

🌱
Akui kehilangan itu Langkah pertama dan paling mendasar adalah mengakui bahwa kehilangan itu nyata. Bukan berarti menerima rasa sakit sekaligus, tetapi memberi izin kepada diri sendiri untuk mengakui bahwa sesuatu telah berubah dan bahwa perasaan yang muncul adalah valid.
💬
Periksa pikiran dan perasaan Anda secara jujur Luangkan waktu untuk duduk bersama diri sendiri dan bertanya: “Apa yang sebenarnya saya rasakan?” Menulis jurnal, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau sekadar duduk dalam keheningan dan mengizinkan emosi untuk hadir tanpa dihakimi, semuanya dapat membantu.
🕊️
Hapus ekspektasi “seharusnya” Dr. Smith menekankan pentingnya menghilangkan tuntutan tentang apa yang “seharusnya” Anda rasakan atau lakukan pada titik ini dalam hidup. Duka adalah pengalaman yang unik bagi setiap orang — tidak ada timeline yang benar atau salah.
🤝
Bergabung dengan kelompok dukungan Psychology Today mencatat bahwa selain terapi, kelompok dukungan sering kali sangat membantu orang yang berduka untuk merasa didengar dan menemukan komunitas. Mengetahui bahwa Anda tidak sendirian dalam perjalanan ini memiliki kekuatan penyembuhan yang nyata.
🏥
Cari bantuan profesional Ini adalah rekomendasi terpenting. Terapi yang dikhususkan untuk duka — seperti Complicated Grief Treatment (CGT) — telah terbukti secara ilmiah dapat secara efektif mengurangi gejala prolonged grief disorder. Seorang psikolog atau terapis berlisensi dapat membantu Anda menavigasi kompleksitas duka dengan cara yang aman dan terstruktur.
📅
Persiapkan diri jika memungkinkan Dalam situasi di mana kehilangan dapat diantisipasi sebelumnya (misalnya penyakit terminal), Dr. Smith menyarankan untuk memikirkan cara-cara untuk mempersiapkan diri. Persiapan tidak akan mencegah duka, tetapi dapat membantu meringankan beberapa aspek dari proses berduka.

Penyembuhan dari duka yang belum terproses bukanlah proses linear. Akan ada hari-hari yang lebih berat dari hari-hari sebelumnya. Akan ada momen-momen di mana kesedihan datang kembali dengan intensitas yang mengejutkan — pada ulang tahun, hari libur, atau bahkan saat mencium aroma yang mengingatkan Anda pada seseorang. Ini semua adalah bagian dari proses yang normal.

Yang penting untuk diingat adalah bahwa bergerak maju bukan berarti melupakan. Ini berarti belajar untuk membawa kenangan dan cinta tersebut bersamaan dengan kehidupan yang terus berjalan. Seperti yang dikatakan oleh banyak ahli duka: tujuannya bukan untuk menutup luka, tetapi untuk belajar hidup dengan cara yang baru — cara yang menghormati kehilangan sekaligus merangkul kemungkinan-kemungkinan yang masih ada di depan.

Jika Anda Merasa Tidak Baik-baik Saja, Itu Valid

Tidak ada yang salah dengan Anda. Duka yang belum terproses adalah kondisi nyata yang bisa ditangani. Bicaralah dengan profesional kesehatan mental yang Anda percaya — langkah pertama itu lebih dekat dari yang Anda bayangkan.

Referensi & Sumber

  • Dr. Brandy Smith, PhD — Psikolog Klinis, Thriveworks Birmingham (via Parade.com, Maret 2026)
  • American Psychiatric Association — Prolonged Grief Disorder (psychiatry.org)
  • Psychology Today — Prolonged Grief Disorder & The Role of Grief in Addiction
  • Prigerson et al. (2012) — “Grief and mourning gone awry: pathway and course of complicated grief,” Dialogues in Clinical Neuroscience
  • Parisi et al. (2019) — “The relationship between substance misuse and complicated grief: A systematic review,” Journal of Substance Abuse Treatment
  • Crespo et al. (2021) — “Coping Strategies and Complicated Grief in a Substance Use Disorder Sample,” Frontiers in Psychology
  • Cleveland Clinic — Complicated Grief: What It Is, Symptoms & Treatment
  • WebMD — What Is Prolonged Grief Disorder? (Februari 2026)
  • EBSCO Research Starters — Grief and Guilt
  • Empathy / PR Newswire — Annual Cost of Dying Report 2024

Artikel ini disusun untuk tujuan informatif dan edukasi. Bukan pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala-gejala di atas, konsultasikan dengan tenaga kesehatan mental berlisensi. ♡

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *