Kenapa Kita Bisa Jatuh Cinta pada Orang yang Tidak Tepat?
Ilmu di balik pola yang berulang, dan cara memutus siklusnya sebelum terlambat
Kita pernah ada di sana — jantung berpacu, percakapan mengalir tanpa henti, chemistry yang terasa seperti magnet. Lalu, tanpa peringatan, semuanya berubah. Dan kita bertanya-tanya untuk kesekian kalinya: kenapa selalu orang yang sama yang aku pilih?
Otak Kita Sedang Bermain Curang
Sebelum kita menyalahkan hati yang “terlalu mudah percaya,” ada baiknya kita melihat ke dalam kepala kita sendiri — secara harfiah. Ilmu neurosains modern telah menunjukkan bahwa proses jatuh cinta adalah sebuah badai kimiawi yang nyata di dalam otak.
Ketika Otak Dilanda Dopamin
Saat kita bertemu seseorang yang menarik, otak kita langsung memulai serangkaian reaksi kimia yang kompleks. Pertama, kadar testosteron dan estrogen melonjak, mendorong perasaan hasrat yang intens. Kemudian otak memproduksi dopamin dalam jumlah besar — zat kimia yang berperan dalam rasa senang dan euforia — disertai norepinefrin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan membuat kita tidak bisa berhenti memikirkan orang tersebut.
Yang paling mengejutkan: bagian otak yang seharusnya berfungsi sebagai rem — area yang menilai risiko dan memperingatkan kita untuk berhati-hati — justru aktivitasnya menurun ketika kita sedang jatuh cinta. Artinya, otak kita secara harfiah sedang “mematikan” kemampuan berpikir kritis kita tepat di saat kita paling membutuhkannya.
Para peneliti dari Georgetown University menggambarkan cinta romantis sebagai sebuah sistem penguatan — bukan kecanduan penuh, tapi sangat mirip: setiap interaksi yang menyenangkan memperkuat sirkuit hadiah otak, mendorong kita untuk terus mencari lebih banyak kedekatan dengan orang tersebut.
Studi fMRI yang dilakukan pada orang-orang yang sedang “jatuh cinta” menemukan aktivasi tinggi di area otak kaya dopamin yang terkait dengan motivasi dan sistem hadiah — termasuk ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens. Respons ini sangat serupa dengan yang diamati pada orang yang mengonsumsi zat adiktif.
Ini menjelaskan fenomena yang kita semua kenal: mengapa seseorang yang kita tahu “tidak baik untuk kita” terasa begitu sulit untuk dilepaskan. Otak kita telah mengkodekan mereka sebagai sumber hadiah — dan menghentikan pengejaran itu terasa seperti withdrawal dari kecanduan.
Masa Kecil yang Membentuk Pilihan Cinta Kita
Salah satu penjelasan paling kuat — dan paling mengejutkan — mengapa kita jatuh cinta pada orang yang tidak tepat terletak jauh di masa lalu kita: cara kita diasuh sejak bayi. Teori attachment (kelekatan) yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby mengungkapkan bahwa hubungan pertama kita dengan pengasuh membentuk sebuah “cetak biru internal” tentang bagaimana hubungan seharusnya terasa.
Secara sederhana, kita mencari keakraban. Dan keakraban tidak selalu berarti sehat — ia hanya berarti familiar.
- Secure Attachment (Aman) Terbentuk ketika pengasuh responsif dan konsisten. Individu ini umumnya nyaman dengan kedekatan, mampu bersikap rentan, dan bisa pergi ketika hubungan tidak sehat.
- Anxious Attachment (Cemas) Sering terbentuk dari pengasuhan yang tidak konsisten. Individu ini cenderung takut ditinggalkan dan terus-menerus membutuhkan kepastian dari pasangan — membuat mereka rentan terjebak dalam hubungan yang penuh ketidakpastian emosional.
- Avoidant Attachment (Menghindar) Berkembang ketika kedekatan emosional dipandang sebagai ancaman. Individu ini cenderung menjaga jarak emosional dan takut terhadap kerentanan — namun sering kali menarik perhatian orang dengan anxious attachment.
- Fearful-Avoidant (Disorganized) Kombinasi kecemasan dan penghindaran. Individu ini mendambakan cinta tapi sekaligus takut terhadapnya — menciptakan pola hubungan yang paling kompleks dan menyakitkan.
Banyak orang yang terus-menerus menemukan diri mereka tertarik pada orang-orang yang tidak tepat bukan karena mereka tidak tahu lebih baik — tapi karena otak mereka mengkodekan rasa sakit yang familiar sebagai sesuatu yang terasa seperti rumah.
— Diadaptasi dari Psychology Today
Inilah yang disebut oleh para psikolog sebagai “jebakan anxious-avoidant.” Seseorang dengan gaya kelekatan cemas tertarik pada seseorang yang menghindar — dan dinamika ini menciptakan siklus yang melelahkan: semakin satu pihak mendekati, semakin pihak lain menjauh, yang justru semakin memperparah kecemasan pertama tadi.
Dalam beberapa kasus, pasangan yang avoidant bahkan memulai dengan pendekatan yang sangat intens — membanjiri pasangannya dengan perhatian, afeksi, dan gestur besar — yang dikenal sebagai love bombing — hanya untuk kemudian menjauh, meninggalkan pasangannya bingung dan hancur hati.
Ketika Kita Jatuh Cinta Terlalu Cepat
Ada sebuah konsep psikologis yang relatif jarang dibicarakan tapi sangat relevan: emofilia — kecenderungan untuk jatuh cinta terlalu cepat, terlalu mudah, dan terlalu sering. Penelitian dari Psychology Today menunjukkan bahwa individu dengan emofilia tinggi lebih mungkin tertarik pada pasangan dengan ciri-ciri Dark Triad: narsisme, psikopati, dan Machiavellianisme.
Pesona Awal yang Menipu
Individu dengan ciri Dark Triad sering kali tampak sangat menarik di awal: karismatik, percaya diri, dan menawan. Tapi di baliknya tersimpan pola yang merusak.
Sirkuit Hadiah yang Tertipu
Otak kita sering kali salah menafsirkan intensitas emosional sebagai kedalaman koneksi. Kecemasan yang ditimbulkan orang yang tidak tepat terasa seperti “spark.”
Repetisi Luka Lama
Banyak orang secara tidak sadar berharap bisa “memperbaiki” pola lama dengan menciptakan ulang dinamika serupa — berharap kali ini hasilnya berbeda.
Ilusi vs. Realita
Kita sering jatuh cinta bukan pada orangnya, tapi pada gambaran yang kita proyeksikan. Kita mencintai potensi yang kita bayangkan ada di sana.
Para peneliti Jacqueline Lechuga dan Daniel Jones dalam studi mereka terhadap 267 partisipan menemukan bahwa semakin tinggi skor emofilia seseorang, semakin besar keinginan mereka untuk bersama pasangan dengan ciri-ciri yang justru berpotensi merusak hubungan. Bagi mereka yang “suka jatuh cinta,” pasangan yang lebih banyak memiliki ciri gelap justru tampak semakin ideal.
Mengapa ini penting: Penelitian menunjukkan bahwa pasangan dengan ciri Dark Triad lebih mungkin untuk berselingkuh dalam hubungan. Daya tarik awal yang kuat — karisma, kepercayaan diri — sering kali menutupi pola perilaku yang merusak di bawah permukaan.
Trauma Masa Kecil dan Pengulangan yang Tidak Disadari
Psikiater dan peneliti trauma Bessel van der Kolk dalam karyanya yang monumental menulis bahwa banyak orang yang pernah mengalami trauma secara tampaknya kompulsif menempatkan diri mereka dalam situasi yang mengingatkan pada trauma asal mereka. Ini bukan masokisme — ini adalah cara otak mencoba memproses dan “menyelesaikan” sesuatu yang belum terselesaikan.
Trauma ikatan (traumatic bonding) adalah fenomena di mana seseorang membentuk keterikatan emosional yang kuat dengan seseorang yang juga menjadi sumber kesakitan mereka. Siklus idealisasi dan devaluasi — sering ditemukan dalam hubungan dengan individu narsistik — menciptakan kondisi psikologis yang mirip dengan kecanduan.
Berdasarkan teori kelekatan Bowlby, pengalaman awal yang traumatis membentuk pola kerja internal yang mempengaruhi cara kita merasakan hubungan sepanjang hidup. Ketika kita tumbuh dalam lingkungan yang tidak stabil secara emosional, kekacauan terasa “normal” — dan ketenangan justru terasa asing, bahkan mencurigakan.
Studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa trauma masa kecil berhubungan negatif secara signifikan dengan kepuasan hubungan romantis di masa dewasa. Gaya kelekatan yang tidak aman — baik anxious maupun avoidant — berperan sebagai mediator antara pengalaman traumatis masa kecil dan kualitas hubungan yang terbentuk kemudian.
Melalui kesadaran diri dan proses terapeutik, seseorang dapat mengembangkan apa yang para peneliti sebut sebagai “earned secure attachment” — kelekatan aman yang diperoleh melalui kerja keras emosional, bukan sesuatu yang hanya bisa didapat dari masa kecil yang sempurna. Otak dewasa memiliki neuroplastisitas yang cukup untuk membentuk pola-pola baru.
Harga Diri dan Pilihan yang Kita Buat
Ada satu faktor lagi yang sering diabaikan dalam diskusi tentang mengapa kita memilih orang yang salah: harga diri kita sendiri. Keyakinan-keyakinan negatif tentang diri kita — baik yang disadari maupun tidak — membentuk batas atas dari perlakuan yang kita anggap layak kita terima.
Menurut para psikolog, kita lebih bersedia menerima perlakuan buruk dari orang lain jika hal itu sejalan dengan cara kita memandang diri sendiri. Pertanyaan yang patut direnungkan secara jujur adalah: apa yang sebenarnya kamu percaya bahwa kamu layak dapatkan?
Pilihan pasangan yang kita buat bukanlah kebetulan. Mereka adalah hasil dari masa kecil kita, gaya kelekatan kita, dan keyakinan tentang diri kita sendiri — yang terus membuat kita terjebak dalam siklus hubungan yang berulang.
— Diadaptasi dari Albizu University Research
Yang paling mengkhawatirkan adalah saat kita mulai kehilangan identitas diri dalam sebuah hubungan. Ketika kita terlalu fokus memenuhi kebutuhan orang yang kita cintai — mengubah diri kita demi menyenangkan mereka, menyembunyikan kebutuhan kita sendiri — kita tidak hanya kehilangan diri sendiri, tapi juga secara paradoks sering kali kehilangan minat orang yang coba kita pertahankan.
Pertanyaan refleksi: Pernahkah kamu menggambarkan seseorang yang mencintaimu dengan tulus sebagai “membosankan”? Penelitian menunjukkan bahwa ketenangan dalam hubungan yang sehat sering kali terasa tidak familier bagi mereka yang terbiasa dengan dinamika hubungan yang penuh ketegangan.
✦ Memutus Siklus: Dari Mana Harus Mulai? ✦
Memahami apakah kamu anxious, avoidant, atau disorganized adalah titik awal yang krusial. Banyak tes gaya kelekatan yang tersedia secara online — tapi bekerja dengan terapis dapat memberikan wawasan yang jauh lebih dalam.
Emofilia — jatuh cinta terlalu cepat — adalah salah satu prediktor terkuat untuk memilih pasangan yang salah. Beri dirimu waktu untuk mengenal seseorang sebelum membiarkan perasaan intens mengambil alih penilaianmu.
“Chemistry” yang intens tidak selalu berarti kompatibilitas. Tanyakan pada dirimu: apakah aku tertarik pada orangnya, atau pada sensasi kecemasan yang ditimbulkannya yang aku salah artikan sebagai “spark”?
Tidak ada cara yang lebih efektif untuk memutus siklus selain bekerja dengan trauma dan pola masa lalumu. Terapi kognitif, EMDR, dan pendekatan trauma-informed terbukti efektif untuk membangun pola kelekatan yang lebih sehat.
Fokus pada bagaimana kamu ingin merasa dalam sebuah hubungan, bukan pada tipe orang tertentu. Ini membantu menggeser fokusmu dari pola lama ke visi yang lebih sehat tentang cinta.
Penutup: Kamu Bukan Kutukan
Jatuh cinta pada orang yang tidak tepat bukan berarti kamu cacat, atau tidak layak dicintai, atau dikutuk untuk selamanya sendirian. Ini berarti ada pola — yang terbentuk dari pengalaman nyata, dari luka nyata, dari otak yang sedang berusaha melindungimu dengan cara terbaiknya meski dengan informasi yang tidak lengkap.
Yang indah dari semua ilmu pengetahuan ini adalah bahwa pola bisa diubah. Otak kita, meskipun sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, tetap memiliki kemampuan untuk belajar, tumbuh, dan membentuk koneksi baru. Proses itu membutuhkan waktu, kesabaran, dan sering kali bantuan profesional — tapi itu sangat mungkin.
Menyadari bahwa kamu adalah faktor umum dalam pola hubunganmu bukan tentang menyalahkan diri sendiri — tapi tentang memberdayakan dirimu. Kamu memiliki lebih banyak kendali atas kisah cintamu daripada yang kamu kira. Dan perjalanan itu dimulai dengan satu langkah yang paling berani: jujur pada diri sendiri.
Referensi & Sumber
- Psychology Today — Why You Keep Falling for the “Wrong” Person (Oct 2024). psychologytoday.com
- Psychology Today — Who Is Most Likely to Fall in Love with the Wrong Person? (Sep 2020). Jones, D.N. & Paulhus, D.L. — Emophilia research.
- Georgetown University — The Neuroscience of Love: What’s Going on in the Lovestruck Brain? (2025). georgetown.edu
- UW Medicine Right as Rain — Brain Chemistry Influences Love and Attraction. Zweifel, L., neuroscientist. rightasrain.uwmedicine.org
- Frontiers in Psychology / PubMed — The relationship between childhood trauma and romantic relationship satisfaction (2025). PMC11795211.
- Albizu University — Why We Fall for the Wrong People (and How to Break the Cycle) (2026). albizu.edu
- van der Kolk, B.A. (2014). The Body Keeps the Score. Viking. — Traumatic bonding & compulsion to repeat.
- Bowlby, J. — Attachment Theory. Internal working model & adult romantic relationships.
- Pacific Neuroscience Institute — The Neuroscience of Love and Connection (2025). pacificneuroscienceinstitute.org