Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
● Smart Community, Smart Society
Dunia KerjaEdisi Khusus · Kepemimpinan & Dinamika Kekuasaan
Dihormati atau Ditakuti?
8
Pernyataan
Pemimpin yang ditakuti dan yang dihormati bisa terlihat sama dari luar — timnya patuh, tidak ada yang protes, dan semuanya tampak berjalan. Tapi mekanisme di baliknya sangat berbeda, dan perbedaan itu menentukan segalanya tentang kualitas tim jangka panjang.
Tim yang tidak pernah mempertanyakan keputusan pemimpinnya dan selalu mengeksekusi arahan dengan cepat adalah tanda kepemimpinan yang kuat dan efektif.
Kepatuhan yang cepat dan tanpa pertanyaan hampir tidak pernah lahir dari penghormatan yang genuine — lebih sering dari kalkulasi bahwa mempertanyakan terlalu berisiko. Riset Amy Edmondson menunjukkan bahwa tim dengan psychological safety yang rendah memang terlihat sangat patuh dan tidak konfrontatif — tapi di baliknya, mereka menyembunyikan informasi kritis, tidak melaporkan masalah, dan tidak mengambil inisiatif. Pemimpin yang hanya menerima kepatuhan tanpa pertanyaan sedang secara sistematis memotong akses mereka sendiri terhadap realita yang terjadi di timnya.
Edmondson, A.C. (1999). Psychological Safety and Learning Behavior in Work Teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.
2
Pemimpin yang ditakuti timnya hampir pasti mendapatkan gambaran yang tidak akurat tentang kondisi nyata di lapangan — karena orang melaporkan apa yang aman untuk dilaporkan, bukan apa yang sebenarnya terjadi.
Ini adalah konsekuensi paling berbahaya dari kepemimpinan berbasis ketakutan — dan yang paling jarang disadari oleh pemimpin yang bersangkutan. Ketika orang takut pada atasannya, mereka secara otomatis menyaring informasi: masalah yang disembunyikan, kesalahan yang tidak dilaporkan, dan risiko yang tidak diungkapkan sampai sudah terlambat. Jeffrey Pfeffer mendokumentasikan bagaimana pemimpin yang paling otoriter sering paling tidak terinformasi tentang kondisi nyata organisasinya — justru karena kekuasaan mereka mendistorsi arus informasi yang mengalir ke mereka.
Pfeffer, J. (2010). Power: Why Some People Have It and Others Don't. HarperCollins. Lihat juga: Edmondson, A.C. (1999). Psychological Safety. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.
3
Pemimpin yang memberikan tekanan tinggi dan standar yang tidak bisa ditawar akan menghasilkan tim dengan performa puncak yang konsisten dalam jangka panjang.
Tekanan tinggi memang bisa menghasilkan performa yang menonjol dalam jangka pendek — tapi riset tentang abusive supervision Tepper menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, kepemimpinan yang berbasis tekanan dan intimidasi secara konsisten berkorelasi dengan turnover tinggi, burnout, penurunan kreativitas, dan sabotase yang tidak disadari. Tim yang berperforma karena takut gagal berbeda secara fundamental dari tim yang berperforma karena ingin berhasil — dan perbedaan itu terlihat jelas dalam kualitas kerja yang membutuhkan inisiatif, inovasi, dan pengambilan risiko yang terukur.
Tepper, B.J. (2000). Consequences of Abusive Supervision. Academy of Management Journal, 43(2), 178–190.
4
Pemimpin yang dihormati secara genuine oleh timnya hampir selalu bisa menerima pertanyaan, ketidaksetujuan, atau bahkan kritik dari anggota tim — tanpa mempersepsikannya sebagai ancaman terhadap otoritasnya.
Ini adalah salah satu pembeda paling konsisten antara otoritas yang berbasis penghormatan dan yang berbasis ketakutan. Pemimpin yang kepemimpinannya lahir dari kompetensi, integritas, dan konsistensi tidak membutuhkan kepatuhan tanpa pertanyaan untuk merasa aman dalam posisinya — justru sebaliknya, mereka aktif mencari perspektif yang berbeda karena tahu itu yang meningkatkan kualitas keputusan. Pemimpin yang mempersepsikan pertanyaan sebagai ancaman hampir selalu adalah pemimpin yang otoritasnya rapuh — dibangun di atas posisi, bukan pada kapasitas yang nyata.
Kouzes, J.M., & Posner, B.Z. (2017). The Leadership Challenge, 6th ed. Wiley.
5
Otoritas formal — jabatan, gelar, posisi struktural — adalah faktor yang paling menentukan seberapa besar pengaruh nyata seseorang terhadap cara timnya berpikir dan bekerja.
Otoritas formal dan pengaruh nyata adalah dua hal yang bisa sepenuhnya terpisah — dan dalam organisasi yang sehat, keduanya sering tidak berkorelasi sempurna. Pfeffer mendokumentasikan secara ekstensif bagaimana pengaruh yang paling bertahan lahir dari reputasi, kepercayaan, dan kemampuan membangun koalisi — bukan dari jabatan. Di banyak tim, ada orang tanpa jabatan formal yang pendapatnya paling didengar dan paling membentuk arah — dan ada manajer dengan jabatan tinggi yang pengaruh nyatanya minimal karena tidak punya kredibilitas di mata timnya.
Pfeffer, J. (2010). Power: Why Some People Have It and Others Don't. HarperCollins.
6
Tim yang bekerja di bawah pemimpin yang ditakuti akan menghasilkan lebih sedikit inovasi dan lebih sedikit inisiatif dari yang seharusnya mereka mampu.
Inovasi dan inisiatif membutuhkan kesediaan untuk mengusulkan ide yang belum terbukti, mengakui ketidaktahuan, dan mengambil risiko yang mungkin berakhir dengan kegagalan yang terlihat. Semua ini hanya mungkin dalam lingkungan di mana salah adalah sesuatu yang aman untuk terjadi. Di bawah kepemimpinan berbasis ketakutan, orang secara rasional memilih strategi yang paling meminimalisir risiko terlihat buruk — dan itu hampir selalu berarti mengerjakan yang sudah terbukti, bukan mencoba yang baru. Hasil terbaik yang bisa diharapkan dari tim yang takut adalah eksekusi yang baik — bukan terobosan.
Edmondson, A.C. (2018). The Fearless Organization: Creating Psychological Safety in the Workplace. Wiley.
7
Pemimpin yang paling efektif adalah yang paling disukai oleh timnya — karena hubungan yang positif menghasilkan loyalitas dan motivasi yang lebih tinggi.
Disukai dan dihormati adalah dua dimensi yang berbeda — dan keduanya tidak selalu hadir bersamaan. Pemimpin yang terlalu mengutamakan disukai sering menghindari percakapan sulit, menoleransi performa yang tidak memadai, dan membuat keputusan yang populer daripada yang benar. Kim Scott menyebut ini ruinous empathy: kepemimpinan yang terasa baik hati tapi pada akhirnya merugikan tim karena menghindari ketegasan yang dibutuhkan. Pemimpin yang paling berdampak jangka panjang sering bukan yang paling disukai — tapi yang paling konsisten antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan.
Scott, K. (2017). Radical Candor. St. Martin's Press. Lihat juga: Kouzes, J.M., & Posner, B.Z. (2017). The Leadership Challenge. Wiley.
8
Ketika seorang pemimpin pergi dari sebuah tim atau organisasi, cara tim berfungsi hampir tidak berubah — karena sistem dan proses yang sudah ada yang menentukan kinerja, bukan individu pemimpinnya.
Ini adalah asumsi yang menyenangkan tapi jarang terbukti. Riset kepemimpinan secara konsisten menunjukkan bahwa pergantian pemimpin — terutama dari yang berbasis ketakutan ke yang berbasis kepercayaan, atau sebaliknya — menghasilkan perubahan yang sangat signifikan pada perilaku tim dalam waktu yang relatif singkat. Cara orang berbicara dalam rapat, seberapa banyak yang mereka ungkapkan, seberapa besar risiko yang mereka ambil — semua ini sangat dipengaruhi oleh sinyal yang dikirimkan pemimpin tentang apa yang aman dan apa yang tidak. Sistem bisa diwarisi; budaya yang diciptakan pemimpin tidak bisa.
Edmondson, A.C. (2018). The Fearless Organization. Wiley. Lihat juga: Pfeffer, J. (2010). Power. HarperCollins.