Kamu bangga bisa multitasking? Sains punya kabar buruk. Uji seberapa jauh kamu memahami apa yang sebenarnya terjadi di otakmu saat kamu merasa bisa mengerjakan banyak hal sekaligus.
Kamu mengerjakan laporan penting sambil sesekali membalas pesan masuk. Mana yang lebih akurat menggambarkan apa yang terjadi di otakmu:
Otak manusia tidak benar-benar bisa memproses dua tugas kognitif yang membutuhkan perhatian secara paralel. Yang terjadi adalah task switching — perpindahan cepat antara tugas yang menciptakan ilusi multitasking. Setiap perpindahan memerlukan waktu dan energi kognitif untuk reorientasi, yang disebut switching cost. Penelitian menunjukkan ini bisa memakan hingga 40% dari waktu produktif total.
Rubinstein, J.S., Meyer, D.E. & Evans, J.E. (2001). Executive control of cognitive processes in task switching. Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance, 27(4), 763–797.
2
Kamu baru saja diinterupsi oleh notifikasi saat sedang fokus mengerjakan sesuatu. Seberapa lama rata-rata dibutuhkan untuk kembali ke level fokus yang sama:
Penelitian Gloria Mark dari UC Irvine menemukan bahwa setelah interupsi, rata-rata dibutuhkan 23 menit 15 detik untuk kembali ke tugas orisinal dengan level fokus yang sama. Ini terjadi karena working memory harus memuat ulang konteks pekerjaan yang sedang dikerjakan — sebuah proses yang tidak instan. Artinya, bahkan notifikasi yang hanya dilihat selama 5 detik pun bisa mencuri hampir setengah jam produktivitasmu.
Mark, G., Gudith, D. & Klocke, U. (2008). The cost of interrupted work. Proceedings of the ACM CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 107–110.
3
Kamu sering multitasking saat rapat virtual — mengetik email sambil mendengarkan presentasi. Mana yang lebih akurat:
Inattentional blindness menunjukkan bahwa perhatian yang terbagi tidak hanya menurunkan kualitas — ia menciptakan titik buta yang tidak kita sadari. Saat kognitif load tinggi, otak menyaring informasi secara aktif, dan kita tidak tahu apa yang telah disaring. Kombinasi dua tugas verbal (membaca/menulis email + mendengar presentasi) sangat bermasalah karena keduanya bersaing untuk saluran linguistik yang sama di otak.
Seseorang yang sering multitasking cenderung menjadi lebih baik dalam multitasking seiring waktu — otaknya beradaptasi dan switching cost-nya berkurang.:
Studi Eyal Ophir dari Stanford menemukan hasil yang mengejutkan: orang yang mengidentifikasi diri sebagai heavy multitasker justru lebih buruk dalam tes perhatian, filtering gangguan, dan task switching dibanding mereka yang jarang multitasking. Chronic multitasking melatih otak untuk mudah teralihkan, bukan lebih efisien berpindah tugas. Kemampuan yang dilatih adalah distraktibilitas, bukan efisiensi.
Ophir, E., Nass, C. & Wagner, A.D. (2009). Cognitive control in media multitaskers. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(37), 15583–15587.
5
Kamu harus memilih cara mengerjakan dua laporan berbeda hari ini. Mana yang lebih produktif:
Deep work — istilah Cal Newport — mensyaratkan sesi fokus panjang tanpa interupsi untuk menghasilkan output kognitif berkualitas tinggi. Bergantian setiap 30 menit berarti kamu menanggung switching cost berulang kali tanpa pernah benar-benar masuk ke kondisi fokus optimal. Untuk pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam, satu blok waktu panjang hampir selalu menghasilkan output lebih baik daripada beberapa blok pendek yang terfragmentasi.
Newport, C. (2016). Deep Work. Grand Central Publishing. | Meyer, D.E. & Kieras, D.E. (1997). A computational theory of executive cognitive processes. Psychological Review, 104(1), 3–65.
6
Mendengarkan podcast atau audiobook sambil melakukan pekerjaan yang 'tidak membutuhkan banyak pikiran' seperti beres-beres atau olahraga ringan adalah bentuk multitasking yang efektif.:
Ini adalah pengecualian yang valid dalam neurosains multitasking. Ketika satu tugas bersifat otomatis dan tidak memerlukan perhatian eksekutif — seperti berjalan, beres-beres, atau olahraga ringan yang sudah terbiasa — ia tidak bersaing secara signifikan dengan tugas kognitif seperti mendengarkan. Dual-task interference paling kuat terjadi ketika kedua tugas membutuhkan sumber daya kognitif yang sama, bukan ketika salah satunya sudah otomatis.
Pashler, H. (1994). Dual-task interference in simple tasks. Psychological Bulletin, 116(2), 220–244. | Jiang, Y. et al. (2004). Splitting attention. Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance, 30(5), 972–985.
7
Kamu merasa bisa menulis pesan panjang sambil mengemudi di jalan yang sepi dan lurus. Mana yang lebih akurat:
Penelitian David Strayer menunjukkan bahwa berbicara via handphone saat mengemudi — bahkan handsfree — menghasilkan gangguan kognitif setara dengan blood alcohol level 0,08% (batas legal mabuk di banyak negara). Mengetik bahkan lebih buruk lagi. Jalan yang sepi tidak mengurangi gangguan kognitif internal — ia hanya mengurangi jumlah variabel eksternal yang harus direspons, tapi kemampuan respons terhadap kejadian tak terduga tetap terganggu parah.
Strayer, D.L., Drews, F.A. & Crouch, D.J. (2006). A comparison of the cell phone driver and the drunk driver. Human Factors, 48(2), 381–391.
8
Ada sebagian kecil orang — disebut 'supertasker' — yang secara neurologis mampu melakukan dua tugas kognitif kompleks sekaligus tanpa penurunan performa yang signifikan.:
David Strayer dan kolega menemukan bahwa sekitar 2,5% populasi menunjukkan performa yang tidak menurun secara signifikan saat melakukan dua tugas kognitif kompleks secara bersamaan — disebut supertaskers. Menariknya, orang yang mengklaim dirinya supertasker hampir tidak pernah masuk kategori ini dalam tes objektif. Kemampuan ini tampak memiliki dasar neurologis yang berbeda, bukan sekadar latihan.
Mengaktifkan mode Do Not Disturb dan menyembunyikan ponsel dari pandangan saat bekerja lebih efektif untuk fokus dibanding sekadar mematikan notifikasi tapi ponsel tetap terlihat.:
Studi Adrian Ward dari University of Texas menemukan bahwa kehadiran fisik ponsel di meja — bahkan dalam kondisi mati dan menghadap bawah — secara nyata mengurangi kapasitas working memory dan kemampuan pemecahan masalah. Otak menggunakan sebagian sumber daya kognitif untuk aktif menahan diri dari melihat ponsel, meski tidak ada notifikasi. Menyimpan ponsel di luar ruangan menghasilkan performa kognitif yang secara signifikan lebih baik.
Ward, A.F. et al. (2017). Brain drain: The mere presence of one's own smartphone reduces available cognitive capacity. Journal of the Association for Consumer Research, 2(2), 140–154.
10
Kamu bisa melatih kemampuan fokus seperti melatih otot — sesi fokus yang konsisten dan terjadwal secara bertahap meningkatkan kemampuan konsentrasi jangka panjang.:
Neuroplasticity menunjukkan bahwa sirkuit perhatian di otak bisa dikuatkan melalui latihan yang konsisten. Praktik seperti meditasi perhatian penuh, sesi deep work terjadwal, dan pembatasan distraksi secara bertahap meningkatkan ketebalan korteks prefrontal dan efisiensi jaringan perhatian. Penelitian pada meditator jangka panjang menunjukkan perbedaan struktural yang nyata di area otak yang terkait regulasi perhatian dibanding non-meditator.
Lazar, S.W. et al. (2005). Meditation experience is associated with increased cortical thickness. NeuroReport, 16(17), 1893–1897. | Merzenich, M. (2013). Soft-Wired. Parnassus Publishing.