Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Pergeseran dari ‘Publish or Perish’ Menuju Product-Driven Research: Renungan bagi Perguruan Tinggi Indonesia dari Cina

China Ganti Disertasi PhD dengan Produk Nyata
Selama beberapa dekade, ekosistem pendidikan tinggi global digerakkan oleh satu hukum tidak tertulis yang absolut: publikasikan artikel ilmiah diatas segalanya. Namun, ketika produk universitas semakin dipenuhi oleh jutaan lembar kertas jurnal yang jarang dibaca, sebuah pergeseran radikal diam-diam sedang dipelopori oleh China. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mulai mendefinisikan ulang esensi tertinggi dari riset akademis. Mereka menggeser kemudi dari kompetisi mengejar angka sitasi menuju penciptaan dampak industri yang nyata melalui riset berbasis produk (product-driven research). Transformasi sistemis ini bukan lagi sekadar eksperimen lokal, melainkan sebuah refleksi mendalam yang mendesak bagi arah masa depan perguruan tinggi di Indonesia.

Pada awal 2026, Zheng Hehui berdiri di hadapan panel penguji di Southeast University, Nanjing, untuk mempertahankan gelar doktoralnya. Namun berbeda dari generasi kandidat doktor sebelumnya, Zheng tidak menyerahkan disertasi tebal yang ditakdirkan berdebu di rak perpustakaan. Sebaliknya, ia mempresentasikan sebuah produk: seperangkat blok baja bertulang bergaya Lego yang dirancang saling mengunci membentuk pilar jembatan berskala masif. Ciptaannya itu kini telah digunakan pada jembatan gantung kabel raksasa yang membentang di atas Sungai Yangtze.

Zheng bukan sekadar seorang mahasiswa doktoral yang beruntung. Ia adalah simbol dari pergeseran radikal cara ekonomi terbesar kedua di dunia memandang pendidikan tinggi. Ia bagian dari gelombang perdana mahasiswa “PhD Praktis” yang melewati jalur disertasi konvensional. Berdasarkan undang-undang yang disahkan pada 2024, universitas kini dapat menganugerahkan gelar doktor di bidang teknik berdasarkan prototipe fisik, teknik baru, atau instalasi proyek besar — bukan lembaran kertas.


Krisis “Publish or Perish”: Akar dari Revolusi Ini

Untuk memahami mengapa China merevolusi persyaratan PhD-nya, kita perlu melihat tantangan “gunung kertas” yang ingin dilampaui negara itu. Selama bertahun-tahun, dunia akademik China terobsesi dengan satu metrik tunggal: volume publikasi. Pada 2022, China berhasil melampaui Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia dalam output riset ilmiah — sebuah pencapaian yang di permukaan terlihat membanggakan.

Namun di balik jumlah sitasi yang mengesankan, tersembunyi “pembusukan” sistemik yang kini sedang dikubur habis-habisan oleh pemerintah. Tekanan budaya “publish or perish” — di mana penghargaan finansial dan jabatan profesional sering kali dikaitkan langsung dengan jumlah publikasi — melahirkan pasar gelap yang dikenal sebagai “paper mill” (pabrik makalah). Organisasi-organisasi bayangan ini menjual artikel ghostwritten, data palsu, dan slot “author” kepada para peneliti yang putus asa memenuhi kuota.

“Terdapat kesenjangan besar antara pengetahuan teoritis yang mereka pelajari dari buku dan kemampuan praktis yang dibutuhkan masyarakat dari mereka.” — Li Jiang, Ilmuwan Informasi, Universitas Nanjing (dikutip Nature, Februari 2026)

Pada 2020, pemerintah pusat China mengumumkan bahwa jumlah publikasi tidak lagi dijadikan satu-satunya dasar promosi jabatan di seluruh negeri, sekaligus mengakhiri hadiah uang tunai untuk makalah yang diterbitkan. Namun skala masalahnya sangat besar — mengingat ada ratusan ribu studi yang berpotensi palsu dari China selama satu dekade terakhir yang tidak mungkin dibersihkan semuanya sekaligus.


Era “Jenderal Kertas” dan Sains Zombie

Pada 2023 saja, lebih dari 10.000 makalah akademik ditarik secara global — memecahkan rekor tahunan. Sebagian besar kasus penarikan ini melibatkan penulis bersama dari China. Situasi ini menjadi begitu parah hingga sebuah jurnal menarik 18 makalah dari China pada awal 2024, sementara penerbit lain harus menutup seluruh edisi khusus yang dikuasai sains palsu.

Era ini melahirkan generasi yang oleh para pengkritik disebut “Jenderal Kertas” (zhishang tanbing). Mereka adalah peneliti yang bisa memamerkan h-index tinggi dan memenangkan hibah, tetapi pekerjaan mereka runtuh begitu keluar dari ranah teoretis. “PhD Praktis” adalah serangan balik langsung dari pemerintah terhadap fenomena ini — sinyal bahwa negara tidak lagi tertarik mendanai “sains zombie,” yaitu riset yang hanya ada untuk dikutip oleh riset lain.

📊 Fakta di Balik Krisis Akademik China

📄 10.000+ Makalah ditarik secara global pada 2023 — rekor sepanjang masa
🎓 97.000+ Lulusan PhD China pada 2024
🏗️ 20.000 Mahasiswa teknik terdaftar dalam program nasional insinyur elite
🏫 60 Universitas berpartisipasi, bermitra dengan 100+ perusahaan

Sumber: ZME Science, Nature (2026)


Kebijakan Baru: Dari Teori ke Produk Nyata

Program PhD Praktis adalah bagian dari reformasi pendidikan yang lebih luas yang dimulai pemerintah China sejak 2010 untuk mencetak “insinyur elite” penggerak inovasi. Pada 2022, pemerintah menginstruksikan universitas-universitas papan atas untuk bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar guna mendirikan pascasarjana khusus “insinyur elite”. Undang-undang yang disahkan pada 2024 akhirnya membuka jalur legal bagi mahasiswa untuk lulus berdasarkan pencapaian praktis.

Saat ini, hanya mahasiswa di bidang teknik yang berhak menggunakan jalur tanpa-disertasi ini. Namun perkembangannya berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Analisis yang diterbitkan pada Juni 2026 menemukan bahwa setidaknya 59 universitas elite China telah memperbarui aturan pemberian gelar mereka, dengan 25 di antaranya sudah mencetak lulusan pertama yang meraih gelar melalui capaian praktis.

Lebih mengejutkan lagi: reformasi ini mulai merambah di luar bidang teknik. Kasus yang dilaporkan kini mencakup mahasiswa pertanian yang lulus berdasarkan kerja lapangan terapan, dan mahasiswa humaniora yang meraih gelar melalui penulisan kreatif — tanda bahwa Beijing sedang melancarkan serangan lebih luas terhadap evaluasi akademik yang sekadar memenuhi kotak-kotak formalitas.

Sosok-Sosok Pelopor: Jembatan, Las Laser, dan Sistem Pemadam

Sejak September 2025, setidaknya 11 insinyur telah meraih gelar doktor mereka melalui jalur serba-praktis ini. Capaian mereka beragam — mulai dari blok jembatan karya Zheng hingga sistem pemadam kebakaran baru untuk pesawat amfibi besar.

Salah satu pelopor lainnya adalah Wei Lianfeng, peneliti di Nuclear Power Institute of China. Pada September 2025, ia menjadi mahasiswa pertama di Harbin Institute of Technology (HIT) yang lulus dengan skema baru ini. “Disertasi”-nya adalah pengembangan proses pengelasan laser vakum beserta pembuatan peralatannya — sebuah terobosan yang ia kerjakan selama lebih dari satu dekade, berangkat dari seorang teknisi lapangan hingga menjadi ahli teknik senior, sebelum kembali ke bangku kuliah untuk memecahkan masalah spesifik yang ia temukan di lingkungan pabrik.

🔧 Bagaimana Sistem PhD Praktis Bekerja

1

Fokus pada “Bottleneck”

Mahasiswa mengerjakan masalah teknologi kritis tempat China bergantung pada impor asing — semikonduktor, elektronik, hingga IT.

2

Sistem Mentor Ganda

Setiap kandidat dibimbing oleh dua supervisor: satu akademisi untuk rigor ilmiah, satu pakar industri untuk keahlian praktis.

3

Output Terverifikasi

Prototipe, desain produk, standar teknis, atau sistem perangkat lunak — didukung laporan tertulis dan dinilai oleh panel gabungan.

4

Uji Nyata di Lapangan

Universitas seperti Nankai menggelar sidang di lokasi industri, bukan di kampus, untuk menguji kendaraan tak berawak dan sistem nyata lainnya.

Sumber: Southwest Jiaotong University, Nankai University (2026)


Geopolitik di Balik Kebijakan Ini

Dorongan untuk PhD Praktis secara eksplisit dikaitkan dengan keamanan nasional. Program ini menarget masalah-masalah “bottleneck” — titik-titik teknologi kritis di mana China sangat bergantung pada impor asing. Sejak 2022, Kementerian Pendidikan telah meluncurkan program percontohan di 18 bidang kritis, termasuk elektronik, teknologi informasi, dan semikonduktor.

Ini adalah puncak dari Program Pelatihan Insinyur Unggulan Nasional (National Excellence Engineer Training Program). China sedang berupaya mencapai kemandirian di bidang semikonduktor dan komputasi kuantum — dan h-index tinggi tidak otomatis menghasilkan perangkat keras yang bisa digunakan di lapangan.

“Banyak masalah teknik tidak cocok untuk format disertasi, atau memang tidak cocok untuk dipublikasikan sama sekali. Untuk beberapa masalah, solusinya hanya terletak pada teknologi itu sendiri.” — Zong Yingying, Wakil Dekan Eksekutif Sekolah Pascasarjana, Harbin Institute of Technology (dikutip China Science Daily)

Tsinghua University saja telah bermitra dengan 56 perusahaan, dengan wakil presidennya, Wu Huaqiang, menyatakan bahwa 1.430 mahasiswa pascasarjana mereka telah mengamankan lebih dari 100 paten.


PhD Praktis vs. PhD Konvensional: Perbedaan Mendasar

Menurut Sun Yutao, peneliti kebijakan inovasi di Universitas Teknologi Dalian, ini merupakan perbedaan tajam dari model “PhD industri” yang lazim di Eropa atau Amerika Serikat. Di Barat, mahasiswa mungkin bekerja sama dengan perusahaan tetapi umumnya masih diharuskan menghasilkan disertasi tertulis tradisional yang berkontribusi pada literatur ilmiah. Di China, produk itu sendiri adalah “karya ilmiah”.

❌ Model Lama

Disertasi ratusan halaman yang jarang dibaca, publikasi demi publikasi untuk memenuhi kuota, dan tekanan “publish or perish” yang melahirkan pabrik makalah palsu.

✅ Model Baru

Prototipe fisik, teknik baru, atau instalasi proyek nyata yang terverifikasi — dinilai oleh panel akademisi dan pakar industri secara langsung.

Tantangan yang Belum Terjawab

Meski program ini menjawab kebutuhan ekonomi yang nyata, ia memunculkan tantangan baru bagi dunia akademik. Mengevaluasi teknik pengelasan secara objektif jauh lebih sulit daripada memberi nilai pada sebuah disertasi.

“Relatif mudah untuk menilai apakah sebuah disertasi bagus, tetapi jauh lebih sulit untuk mengevaluasi produk nyata, apalagi memutuskan apakah produk itu setara dengan lompatan bagi sebuah industri.” — Sun Yutao, Peneliti Kebijakan Inovasi, Universitas Teknologi Dalian

Ada pula risiko kontrol kualitas pada sisi mentor. Li Jiang dari Universitas Nanjing mengingatkan: jika pakar industri yang direkrut universitas tidak cukup kompeten, hal itu akan mempengaruhi kualitas para doktor yang dihasilkan. Selain itu, saat ini jumlah penerima PhD Praktis masih sangat kecil dibanding total output akademik China yang masif.

Pada 2024, China meluluskan lebih dari 97.000 mahasiswa PhD. Kelompok “PhD Praktis” hanyalah sebagian kecil dari angka tersebut — dengan 67 mahasiswa dari program percontohan yang mengajukan gelar berdasarkan desain, proposal, dan laporan kasus. Meski skala mobilisasinya besar di sisi pelatihan, proses evaluasi dan penjaminan mutu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.


Ke Mana Arah Selanjutnya?

Para pengamat memiliki pandangan yang beragam tentang masa depan program ini. Sun Yutao percaya program ini tidak mungkin meluas ke ilmu-ilmu dasar — di mana teori tetap menjadi raja. Namun para pakar lain melihat potensi nyata bagi program ini untuk merambah ke bidang-bidang hibrida. Doktor praktis masa depan bisa muncul di bidang seperti desain perangkat medis canggih dan diagnosis cerdas, di mana garis antara rekayasa dan sains menjadi kabur.

Yang jelas, China sedang mengirim pesan keras kepada dunia: gelar doktor bukan lagi sekadar tentang seberapa banyak yang bisa kamu tulis, melainkan seberapa nyata yang bisa kamu ciptakan. Di tengah perang dagang dan blokade teknologi, negara ini memilih untuk mencetak insinyur yang bisa membangun jembatan — bukan hanya menulis tentangnya.

Artikel ini disusun berdasarkan laporan dari ZME Science (Juli 2026), University World News (Februari 2026), dan jurnal Nature (Februari 2026, Vol. 650:8101, doi: 10.1038/d41586-026-00356-8).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *