Dewasa ini, perkembangan mental pada anak cukup menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Di era pandemi ini, banyak anak-anak yang kurang mendapatkan waktu bermain dan bertemu dengan teman-temannya. Secara tidak langsung orang tua yang sering mengarahkan ataupun membimbing anaknya dan juga orang tua yang akan mengajarkan anaknya belajar selama pandemi. Apakah ini akan menciptakan mental seorang anak menjadi lebih baik ? atau apakah hal ini akan menciptakan mental seorang anak menjadi lebih buruk ? mari kita bahas.
Pandemi ini telah berlangsung hampir 2 tahun lamanya. Pandemi ini juga telah mengubah tatanan kehidupan manusia di dunia secara drastis. Dari orang dewasa hingga anak-anak merasakan dampaknya. Dari bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang kesehatan dan bidang-bidang lainnya juga terkena dampak dari pandemi Covid-19. Dari sekian banyak yang berubah, bidang pendidikan yang terkena dampak yang cukup besar. Sistem pendidikan yang awalnya tatap muka dan dapat bertemu banyak orang, berubah menjadi sekolah di rumah yang jauh dari kata bertemu orang banyak. Anak-anak dituntut untuk selalu menatap layar kaca handphone saat mereka belajar daring. Peran orang tua di sini sangat menentukan apakah anak itu menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Sudah seharusnya anak lahir dalam keluarga yang bahagia serta mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Anak diharapkan tumbuh menjadi anak yang sehat, baik secara jiwa maupun raga. Tetapi faktanya, banyak sekali anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga dengan kondisi orang tua yang kasar, melakukan tindakan dengan semena-mena, serta meracuni mental anak baik secara fisik maupun psikis. Istilah yang sesuai untuk orang tua dengan kondisi tersebut adalah toxic parents.
Toxic parents adalah orang tua yang melakukan tindakan-tindakan tertentu yang tanpa sadar dapat membebani psikologis seorang anak. Atau dapat dikatakan toxic parents adalah orang tua yang mengatur anak sesuai dengan kemauannya tanpa menghargai perasaan dan pendapat sang anak. Banyak hal yang memicu terjadinya toxic parents, yakni adanya masalah psikologis, stres yang tidak terbendung. Ditambah lagi dengan masalah pandemi Covid-19 banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan kesulitan finansial selama penurunan ekonomi global, ini akan berdampak dengan penurunan kesehatan mental yang berkepanjangan.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan toxic parents berpotensi menjadi pribadi yang toxic untuk di sekitarnya. Dan ini akan berujung menjadi lingkaran yang tidak sehat apabila tidak segera ditangani. Adapun ciri-ciri yang menandakan adanya toxic parents yakni :
1. Orang tua yang memiliki ekspektasi yang berlebihan pada anak
Hal ini dilakukan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi sesuatu yang mereka inginkan. Kemudian anak tersebut di arahkan sesuai apa yang di inginkan oleh orang tua. Ekspektasi yang berlebihan ini bermaksud untuk kebaikan sang anak. Namun hal tersebut dapat melukai psikologis anak. Ditambah lagi jika anak tersebut tidak begitu menyukai apa yang di inginkan orang tuanya.
2. Membicarakan keburukan anak serta membandingkan dengan anak yang lain
Dalam situasi tersebut anak akan kehilangan rasa percaya diri mereka. Bahkan jika orang tua membicarakan keburukan anak kepada orang lain dan itu di dengar oleh sang anak, maka anak tersebut akan merasa malu. Ditambah lagi dengan membandingkan anaknya dengan anak lain yang lebih unggul dalam prestasi atau lain sebagainya. Jika ini terus dilakukan oleh orang tua, hal tersebut akan berpengaruh kepada mental anaknya. Anak akan merasa dirinya tidak di hargai oleh orang tuanya. Kerja keras yang sudah dilakukan oleh seorang anak tetapi tidak di hargai oleh orang tuanya akan memperburuk mental dan suasana hati seorang anak.
3. Egois dan tidak adanya rasa empati kepada anak
Toxic parents biasanya menempatkan kepentingannya di atas kepentingan sang anak. Ini cukup membuat seorang anak sangat terkekang dan tidak dapat mengekspresikan diri mereka.
4. Membentak dengan bahasa kasar serta memukul anak
Seringkali orang tua kelepasan dalam mendidik anak. Mereka yang sedang emosi secara tidak langsung membentak anak dan memukulnya untuk menuruti perkataan mereka, namun hal ini tidak akan membuat anak tersebut menjadi takut ataupun mengikuti perkataan orang tuanya. Tindakan semacam ini dapat meracuni dalam kepribadian anak di masa depan.
5. Sering mengkritik
Jika orang tua terlalu sering mengkritik anak tanpa adanya dukungan dari orang tua, dan selalu menyalahkan anak padahal hanya karena tidak sependapat dengan si anak, serta tanpa mau di kritik balik oleh anak, ini termasuk dalam salah satu ciri toxic parents yang sering ditemukan.
Setiap masalah selalu ada solusi. Solusi untuk anak yang mendapatkan perlakuan toxic parents sebagai berikut :
1. Menetapkan batasan antara diri sendiri dan orang tua
Untuk menetapkan batasan antara diri sendiri dan orang tua yang tinggal 1 rumah, anda harus bersikap asertif, yakni tegas dan percaya diri dalam berkomunikasi tanpa memancing respons negatif dari lawan bicara. Sesekali anda dapat mengatakan untuk “tidak”. Tapi perlu di ingat, anda juga harus memberikan alasan yang masuk akal mengapa anda mengatakan “tidak”.
2. Mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih positif
Jika orang tua memberikan kritik tanpa memberikan dukungan ataupun orang tua yang mengutarakan keinginannya dan hal tersebut tidak anda sukai, jangan sampai saudara mengatakan yang tidak mengenakan jika di dengar oleh meraka, itu akan memperburuk hubungan antara anda dan orang tua. Maka sebaiknya anda mengalihkan pembicaraan tersebut. Contohnya, anda dapat membicarakan pencapaian atau menanyakan hal-hal yang menyenangkan yang pernah dilakukan oleh orang tua. Maka dapat disimpulkan anda dapat memilih cerita untuk diceritakan atau dibicarakan kepada orang tua.
3. Bicara dari hati ke hati
Toxic parents identik dengan pribadi yang keras dan sulit untuk berkompromi, maka tidak disarankan anda berkomunikasi dalam keadaan sedang emosi. Anda dapat memulai membicarakan perasaan anda selama ini kepada mereka. Anda dapat meminta alasan mengapa orang tua melakukan hal-hal yang menyakitkan. Tapi perlu di ingat bahwa waktu dan kondisi harus di sesuaikan agar tidak terciptanya masalah-masalah baru. Biasanya orang tua tidak bermaksud untuk menyakiti anak. Namun, hal itu dapat terjadi karena faktor stres atau perasaan kecewa yang akhirnya di lampiaskan kepada anak di rumah.
4. Cari kesibukan di luar rumah
Cobalah untuk mencari kesibukan yang positif di luar rumah agar pikiran anda terbebas dari omongan orang tua yang toxic yang dapat mengganggu dan mempengaruhi mental anda. Anda dapat menekuni hobi atau mempeajari sesuatu yang belum pernah dilakukan. Buatlah orang tua anda bangga, sehingga mereka dapat mendukung apa yang anda sukai.
5. Luangkan waktu untuk me time
Sempatkan waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi fisik dan mental anda. Anda dapat me time dengan berbagai cara, seperti memancing, pergi ke pantai, jalan-jalan ataupun menikmati suasana yang tenang di taman. Me time juga dapat membuat pikiran rileks, sehingga anda dapat lebih sabar dalam menghadapi toxic parents.
Jika anda tetap masih kesulitan dalam menghadapi toxic parents, konsultasikanlah masalah anda dengan psikolog agar mendapatkan solusi. Jika memungkinkan anda dapat mengajak orang tua agar sama-sama berkonsultasi supaya mendapatkan arahan mengenai hubungan orang tua dan anak yang baik.
Kurang puas jika kita hanya membicarakan dari sisi anak saja. Jika dilihat dari sisi orang tua, tanpa kita sadari, ternyata tidak semua orang tua memiliki kemampuan dalam mendidik anaknya dengan baik. Bukan hanya finansial saja, melainkan dari sisi emosional dan pola pikir dalam mendidik anak juga sangat penting. Setidaknya ada 5 hal agar tidak menjadi toxic parents untuk anak tercinta. Berikut 5 hal agar tidak menjadi toxic parents :
1. Kemampuan dalam menyembunyikan masalah pribadi
Hidup adalah sebuah ujian. Meski berat, hal itu tidak dapat dipungkiri terlebih lagi saat menjadi orang tua yang memiliki kewajiban lebih pada anak. Cobalah berusaha untuk tidak menampakannya di depan anak. Salah satu yang harus di sembunyikan dari anak ialah masalah yang dihadapi ayah dan bunda.
2. Kemampuan dalam menghargai
Saat anak berbuat salah dan berkata jujur kepada ayah dan bunda, hal tersebut tidak seharusnya memarahi anak apalagi membentak atau bahkan memukul anak. Belajarlah menghargai dan berikan terimakasih kepada anak yang telah berani mengatakan kesalahannya. Saat anak baru memasuki usia sekolah, hargai berapa pun nilai sekolah yang dia terima. Berikan pujian kepadanya serta semangat agar lebih giat dalam belajar. Katakan kepadanya hasil sendiri lebih berharga dari apa pun. Dengan begitu anak akan merasa bahwa dirinya berharga.
3. Kemampuan mendengar dan memahami
Jadilah pendengar yang baik apapun yang anak ucapkan. Itu sangat berarti bagi sang anak. Jika kepribadian si anak tertutup atau cenderung menahan diri, maka di sini orang tua di tuntut untuk memahami masalah anak. Jadi sangat lebih efektif jika kemampuan mendengarkan di imbangi dengan kemampuan memahami.
4. Kemampuan meramaikan suasana rumah
Cobalah untuk mencairkan suasana dengan mengajak bermain anak, menonton televisi bersama si anak, makan bersama dan mencoba untuk bercanda ataupun bersenda gurau bersama anak. Cara-cara ini dapat membuat suasana rumah lebih menjadi hidup. dengan begitu anak akan menjadi lebih betah di rumah serta menambah erat hubungan antara anak dan orang tua.
5. Kemampuan membimbing dan mengajar
Cobalah untuk membimbing anak dan mengajarkannya hal-hal baik yang dapat digunakan dan dapat membantunya di masa depan nanti. Karena rumah adalah sekolah kedua yang dapat menciptakan kepribadian seseorang yang menjadi lebih baik.
Menjadi orang tua memang tidak semudah yang dipikirkan. Oleh karena itu penting orang tua untuk sadar dalam membesarkan anak. Tanggung jawab menjadi orang tua bukan sekedar melahirkan dan membesarkan anak saja melainkan meraka juga wajib bertanggung jawab secara moral agar terciptanya mental yang baik pada anak. Perlu diingat anak adalah anugrah terindah yang diberikan Tuhan kepada manusia dan orang tua wajib menjaganya.
Referensi Gambar :
https://parentidea.com/2021/06/08/toxic-parenting-aku-depresi-karena-perlakuan-orang-tuaku-begini/
Referensi :
https://www.tokopedia.com/blog/toxic-parents-kpt/
https://www.popmama.com/big-kid/6-9-years-old/ninda/cara-agar-orangtua-tidak-menjadi-toxic-parents
https://www.prenagen.com/id/apa-itu-toxic-parenting
https://www.alodokter.com/lakukan-tips-ini-untuk-menghadapi-toxic-parents