Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Orang Tua Berperan Dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak

 

Apakah pernah kamu mendengar beberapa kasus tentang pelajar yang tewas bunuh diri karena masalah dengan keluarganya?

 

Tidak hanya kebutuhan dalam bentuk materi yang dibutuhkan seorang anak tetapi juga kebutuhan dalam bentuk batin. Menjadi orang tua bukan perihal apa saja yang mau disampaikan tetapi bagaimana cara mereka menyampaikan kepada anak mereka. Apakah cara yang digunakan sudah benar? Apakah cara yang digunakan sudah efektif untuk waktu dengan jangka panjang? Kesehatan emosional anak terletak pada keseimbangan orang tua dalam memberi pola asuh yang baik. Anak dengan didikan yang keras, ia akan tumbuh dengan kekerasan itu sendiri dan menjadi pribadi yang tidak mau mendengarkan orang lain. Ia merasa bahwa bahkan orang terdekatnya yaitu orang tua tidak bisa mendengar isi hatinya atau setidaknya menampung apa yang ia rasakan. Ada baiknya orang tua senantiasa menurunkan ego mereka untuk mendengar apa yang anak mereka rasakan dan menunggu hingga perasaan mereka tenang lalu dapat diajak diskusi dengan kepala dingin.

Salah satu jenis pola asuh yang diteliti oleh Amy Chua yaitu profesor hukum sekaligus penulis dari Amerika Serikat dalam bukunya “Battle Hymn of the Tiger Mother” 

 

Dalam bukunya Amy Chua menuliskan tentang “Tiger mom”. Tiger Mom adalah pola asuh anak dengan penggabungan otoriter, kontrol ketat dan keras bagi anak-anak. Tiger Mom mendidik anak mereka dengan pola asuh Tiger Parenting. Tiger Parenting merupakan pola asuh yang mengharuskan anak memenuhi harapan orang tua mereka seperti mendapatkan nilai tinggi disekolah atau tidak mengeluh akan banyaknya tugas yang diberikan. Dikutip dari laman Verywellfamily, anak yang tumbuh dengan pola asuh seperti ini akan cenderung kehilangan percaya diri dan merasa takut jika membuat kesalahan atau mengecewakan orang tua mereka jika tidak memenuhi standar yang diinginkan orang tua mereka.

Lalu bagaimana upaya orang tua untuk menjaga kesehatan mental anak mereka ?

  1. Mengajak anak untuk hidup sehat secara fisik dan pola makan yang seimbang. Kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan atau trauma yang pernah terjadi di masa lalu tetapi juga yang menjadi kebiasaan anak. Mencari makanan dan minuman yang bergizi agar anak tumbuh dengan sehat secara fisik maupun mental dan menjaga pola tidur anak agar selalu teratur.
  2. Memberi ruang untuk anak bercerita. Terkadang, perlakuan anak yang membuat orang tua marah bukan sengaja dilakukan oleh mereka tetapi mungkin juga terjadi karena masalah yang disimpan oleh anak sendirian. Sebagai orang terdekat mereka, sudah menjadi tugas orang tua untuk memberi ruang bercerita dan memberinya dukungan jika mereka menghadapi waktu yang sulit. 
  3. Memberi izin kepada anak untuk bermain dengan temannya. Sebagai orang tua ada waktu dimana rasa khawatir bermunculan. Pikiran negatif atas apa yang akan terjadi pada anak. Maka penting dari itu untuk tetap mengawasi aktivitas anak tetapi tanpa terlalu mengekangnya.
  4. Mengajar dan meneguhkan anak pada kebiasaan yang baik dan pengambilan keputusan. Seiring berjalannya waktu, anak akan tumbuh dewasa dan mulai mengambil keputusannya sendiri. Orang tua mereka lah yang akan pertama kali bereaksi dan memberikan pelajaran mengenai bagaimana cara mereka mengambil keputusan.
  5. Menghabiskan waktu bersama di alam saat senggang. Terdengar sederhana tetapi mengajak anak menghabiskan waktu di alam untuk menenangkan pikiran sangatlah berpengaruh kepada cara berpikir anak di hari sibuk mereka kembali. Anak akan kembali dengan pikiran yang segar dan siap menghadapi kehidupan mereka di sekolah.
  6. Menanyakan apa kabar anak setelah mereka berkegiatan. “Bagaimana tadi bertemu teman nya? Menyenangkan atau tidak?” atau “Bagaimana sekolahnya? Apakah sulit?” Hal sederhana seperti itu sudah membantu anak menghilangkan stress nya. Ia akan merasa bahwa ia dibersamai oleh orang yang akan memberi dukungan dan ruang untuknya bercerita.
  7. Membenarkan jika benar dan menyalahkan jika salah. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa juga. Mereka harus dididik untuk dapat bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat.

 

Di zaman yang serba praktis ini, anak akan menemukan banyak nya berita buruk yang bertebaran di berita atau sosial media yang mereka punya. Berita buruk semacam itu juga dapat menimbulkan energi negatif pada anak dan mempengaruhi aktivitasnya. Maka dari itu sebagai orang terdekat nya, orang tua harus memberi mereka pengawasan dan memberi batasan waktu. Selain itu orang tua juga harus mulai menganalisis apa yang sebenarnya terjadi jika hal yang tidak menyenangkan terjadi pada anak sebelum memberi teguran. 

 

 

Referensi

https://integrisok.com/resources/on-your-health/2021/may/how-parents-affect-their-child-mental-healthwww.healthhub.sg/live-healthy/419/boosting_childs_mental_wellbeingwww.healthhub.sg/live-healthy/419/boosting_childs_mental_wellbeing

https://www.nasponline.org/resources-and-publications/resources-and-podcasts/mental-health/prevention-and-wellness-promotion/supporting-childrens-mental-health-tips-for-parents-and-educators

Pustaka gambar

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fbrightside.me%2Finspiration-family-and-kids%2Fwhat-tiger-parenting-is-and-why-some-swear-by-it-while-others-hate-it-801846%2F&psig=AOvVaw1w7h1wvhnvQVzy3WeAVZoi&ust=1634486486098000&source=images&cd=vfe&ved=0CAsQjRxqFwoTCPi6t-Wmz_MCFQAAAAAdAAAAABAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *