Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

5 Alasan Mengapa Pria Lebih Sulit Membangun Persahabatan yang Dalam, Menurut Sains

Apakah Pria Lebih Sulit Punya Teman? Fakta, Riset & Solusi
Kesehatan Mental · Hubungan Sosial

Apakah Pria Lebih Sulit
Punya Teman Dekat?

Satu dari tujuh pria mengaku tidak memiliki teman dekat sama sekali. Di balik angka ini tersimpan krisis persahabatan yang nyata — dan dampaknya jauh lebih serius dari yang kita kira.

📅 Juni 2026 · ✍️ Artikel Kesehatan & Psikologi · ⏱ Baca ~10 menit
1/7 pria tidak punya teman dekat sama sekali
55%→27% penurunan pria dengan 6+ teman dekat dalam 30 tahun
40% pria merasa kesepian minimal sekali seminggu

Krisis Senyap yang Dialami Jutaan Pria

Bayangkan sebuah grup WhatsApp yang sudah lama tidak ada pesan baru. Atau momen ketika seseorang ingin curhat, tapi tidak tahu harus menghubungi siapa. Bagi banyak pria, ini bukan sekadar imajinasi — ini adalah kenyataan sehari-hari.

Penelitian selama beberapa dekade terakhir secara konsisten menunjukkan bahwa pria cenderung memiliki lebih sedikit teman dekat dibandingkan perempuan. Lebih dari itu, persahabatan yang mereka miliki pun sering kali bersifat lebih dangkal — lebih banyak berbagi aktivitas daripada perasaan.

Menurut laporan Survey Center on American Life tahun 2021, satu dari tujuh pria menyatakan tidak memiliki teman dekat sama sekali. Ini bukan angka kecil. Tiga dekade lalu, lebih dari separuh pria melaporkan memiliki setidaknya enam teman dekat. Kini, proporsi itu menyusut menjadi hanya 27%.

“Topik persahabatan pria sering diabaikan, padahal seharusnya tidak. Persahabatan yang bermakna adalah fondasi kesehatan mental dan fisik.”

— Dr. Adam Borland, PsyD, Psikolog Klinis, Cleveland Clinic

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “friendship recession” — resesi persahabatan. Dan dampaknya tidak bisa dianggap sepele.

Persahabatan Bukan Kemewahan — Ini Kebutuhan

Manusia adalah makhluk sosial. Ini bukan klise — ini adalah fakta biologis. Kesepian kronis memengaruhi tubuh pada level yang sama dengan merokok 15 batang rokok per hari, menurut laporan U.S. Surgeon General tahun 2023 yang menyatakan kesepian sebagai krisis kesehatan masyarakat.

Bagi pria, dampaknya bahkan lebih mengkhawatirkan. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa pria hampir empat kali lebih mungkin meninggal akibat bunuh diri dibandingkan perempuan. Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah tahun 2024 menemukan bahwa pria dengan lebih sedikit teman dekat dan peluang interaksi sosial yang terbatas mengalami tingkat kesepian yang jauh lebih tinggi.

🔬
Temuan Riset — Pew Research Center, 2025

Dalam survei terhadap 6.204 orang dewasa Amerika, perempuan lebih sering menghubungi teman untuk dukungan emosional: 54% perempuan akan menghubungi teman saat butuh bantuan, dibandingkan hanya 38% pria. Pria juga lebih jarang berkomunikasi dengan teman dekat lewat pesan teks, media sosial, maupun telepon.

Persahabatan yang kuat memberikan manfaat nyata: rasa memiliki, koneksi emosional, motivasi, dukungan di saat sulit, dan validasi diri. Tanpa itu semua, pria lebih rentan terhadap depresi, kecemasan, kecanduan zat, dan berbagai kondisi kesehatan fisik.

Dr. Borland dari Cleveland Clinic menegaskan bahwa persahabatan yang dalam memungkinkan seseorang hadir bukan hanya di momen-momen menyenangkan, tetapi juga di saat paling berat. “Hubungan semacam inilah yang sangat penting bagi kesehatan mental dan fisik,” katanya.

Mengapa Pria Lebih Sulit Membangun Persahabatan yang Dalam?

Ini bukan soal pria yang tidak mau berteman. Ini soal hambatan-hambatan yang sudah tertanam jauh sebelum mereka dewasa. Para ahli psikologi mengidentifikasi beberapa faktor utama:

1. Maskulinitas yang Melarang Kerentanan

Sejak kecil, banyak anak laki-laki diajari bahwa menunjukkan emosi adalah kelemahan. Pesan-pesan seperti “laki-laki tidak boleh menangis” atau “jadilah kuat” membentuk pola pikir yang sulit diubah bahkan setelah dewasa.

Psikolog perkembangan Niobe Way dalam risetnya menemukan bahwa anak laki-laki sebenarnya sangat menginginkan keintiman dan persahabatan yang dalam, tetapi merasa tertekan untuk menyembunyikan kerentanan dan kasih sayang karena takut dicap “lemah”, “feminin”, atau lainnya. Akibatnya, persahabatan di antara anak laki-laki seringkali memudar menjelang akhir masa remaja.

“Persahabatan sejati membutuhkan kerentanan emosional. Dengan membuka diri kepada seseorang, Anda memberi mereka hadiah — hadiah untuk melihat diri Anda yang sesungguhnya.”

— Dr. Adam Borland, PsyD, Cleveland Clinic

Konsep maskulinitas tradisional — stoik, mandiri, tidak emosional — memang memiliki tempatnya, tetapi ketika digunakan sebagai perisai dalam setiap hubungan, ia menjadi penjara. Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa semakin tinggi skor “maskulinitas normatif” seseorang, semakin kecil kemungkinannya mencari bantuan emosional atau menjalin pertemanan yang intim.

2. Persahabatan Berbasis Aktivitas, Bukan Emosi

Penelitian dari Psychology Today mengungkapkan bahwa sebagian besar persahabatan pria dibangun di atas aktivitas bersama — nonton pertandingan, main game, olahraga, atau berkumpul di tempat kerja. Ketika aktivitas itu berhenti, persahabatannya pun ikut redup.

Berbeda dengan perempuan yang cenderung membangun persahabatan melalui percakapan emosional dan berbagi perasaan, pria lebih nyaman “bersama” tanpa harus “terbuka”. Ini tidak salah — tetapi tanpa fondasi emosional, hubungan itu rapuh saat badai datang.

⚽

Pertemanan Pria

Sering berpusat pada aktivitas — olahraga, hobi, pekerjaan. Kedekatan dirasakan secara implisit, jarang diungkapkan secara verbal.

💬

Pertemanan Perempuan

Cenderung dibangun lewat percakapan mendalam dan berbagi emosi. Dukungan verbal dan ekspresi perasaan lebih sering terjadi.

3. Waktu dan Prioritas yang Terkuras

Kehidupan dewasa tidak ramah terhadap persahabatan. Karier, keluarga, tagihan, dan tanggung jawab lainnya mengisi hampir setiap sudut waktu. Pria secara khusus cenderung tidak memprioritaskan persahabatan seperti yang dilakukan perempuan, menurut analisis Cleveland Clinic.

Persahabatan di masa kecil mudah terjadi karena faktor kedekatan — teman satu kelas, tetangga, teman main. Tetapi di usia dewasa, persahabatan membutuhkan usaha aktif dan niat yang disengaja untuk terus dijaga.

4. Perubahan Hidup yang Merombak Jaringan Sosial

Pindah kota demi pekerjaan. Menikah dan fokus ke keluarga. Pandemi yang memaksa isolasi. Merawat orang tua yang sakit. Faktor-faktor ini secara sistematis memutus ikatan sosial yang sudah ada. Pria yang kehilangan jaringan sosialnya seringkali tidak tahu bagaimana membangunnya kembali dari nol.

Data Mengejutkan

Laporan Equimundo tahun 2023 menemukan bahwa dua pertiga pria berusia 18–23 tahun menyatakan “tidak ada orang yang benar-benar mengenal saya.” Di usia yang seharusnya paling aktif secara sosial, rasa tidak dikenal itu sudah mengakar dalam.

5. Ketergantungan Berlebihan pada Pasangan

Banyak pria dewasa menjadikan pasangan romantis mereka sebagai satu-satunya sumber dukungan emosional. Survei Pew Research Center 2025 menemukan bahwa 74% pria akan mencari dukungan pertama kali dari pasangan atau istri, jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan yang juga aktif mengandalkan jaringan pertemanan dan keluarga.

Ini berbahaya bukan karena salah mencintai pasangan, tetapi karena menciptakan tekanan luar biasa pada satu hubungan tunggal. Ketika pasangan tidak ada — entah karena berpisah, meninggal, atau hanya tidak tersedia — pria itu bisa tiba-tiba benar-benar sendirian.

Apa yang Terjadi Ketika Pria Tidak Punya Teman Dekat?

Ini bukan soal merasa sedikit kesepian di akhir pekan. Dampak jangka panjang dari minimnya persahabatan pada pria terbukti serius secara medis dan psikologis.

🧠

Kesehatan Mental Memburuk

Depresi dan kecemasan meningkat signifikan pada pria yang terisolasi sosial. Banyak yang tampak “baik-baik saja” dari luar namun menyimpan beban berat di dalam.

❤️

Risiko Fisik Lebih Tinggi

Isolasi sosial dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan sistem imun yang melemah — efeknya setara dengan merokok 15 batang sehari.

🔥

Koping yang Destruktif

Tanpa saluran sosial yang sehat, pria lebih rentan beralih ke alkohol, zat adiktif, atau perilaku destruktif lainnya sebagai pelarian dari tekanan emosional.

⚠️

Risiko Bunuh Diri

CDC mencatat pria hampir 4 kali lebih mungkin meninggal akibat bunuh diri. Kurangnya jaringan sosial menghilangkan sistem pertolongan pertama yang paling efektif.

📊
Temuan Riset — BMC Public Health, 2024

Studi longitudinal dari University of Melbourne menemukan bahwa memiliki lebih sedikit teman, kurangnya persahabatan dekat sesama pria, dan terbatasnya peluang interaksi sosial secara konsisten dikaitkan dengan meningkatnya kesepian di berbagai tahap kehidupan pria — dari remaja hingga lansia.

Yang membuat situasi ini makin kompleks adalah bahwa pria yang berjuang dengan kesepian jarang menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Mereka tetap pergi bekerja, menjalankan rutinitas, dan tampak normal. Inilah yang membuat krisis ini begitu senyap — dan sering terlambat tertangani.

Bagaimana Pria Bisa Membangun Persahabatan yang Lebih Bermakna?

Kabar baiknya: ini bukan kondisi permanen. Persahabatan bisa dibangun di usia berapa pun — asalkan ada niat dan keberanian untuk memulai. Berikut pendekatan yang disarankan oleh para ahli:

  1. Mulai dengan Kerentanan Kecil

    Tidak perlu langsung curhat panjang. Mulailah dengan mengakui perasaan sederhana kepada diri sendiri — “Saya merasa kesepian” atau “Saya butuh bantuan.” Menurut Dr. Borland, langkah kecil ini adalah awal dari kemampuan terbuka kepada orang lain.

  2. Jadwalkan Waktu untuk Teman

    Persahabatan dewasa tidak terjadi secara kebetulan. Ia membutuhkan jadwal yang disengaja — sama seperti rapat kerja atau gym. Hubungi satu teman lama minggu ini. Buat rencana konkret, bukan hanya “kapan-kapan kita ketemuan.”

  3. Cari Komunitas Berbasis Minat

    Persahabatan pria tumbuh subur di tanah aktivitas bersama. Bergabunglah dengan komunitas olahraga, club buku, kelompok hiking, atau kegiatan kerelawanan. Kegiatan rutin menciptakan peluang perjumpaan yang berulang — fondasi alami sebuah persahabatan.

  4. Lepaskan Topeng Sosial

    “Dalam masyarakat kita, kita sering memasuki hubungan dengan semacam topeng,” kata Dr. Borland. Topeng itu adalah ekspektasi sosial tentang bagaimana pria “seharusnya” bersikap. Ketika Anda menemukan seseorang yang bisa diajak menjadi diri sendiri, jaga hubungan itu.

  5. Hadir di Saat Sulit, Bukan Hanya Senang

    Persahabatan yang dangkal bertahan saat semuanya baik-baik saja. Persahabatan yang dalam teruji saat salah satu pihak sedang terpuruk. Berani hadir untuk teman di masa sulitnya — dan biarkan mereka melakukan hal yang sama untuk Anda.

  6. Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan

    Jika kesulitan membangun koneksi sosial terasa terlalu berat, terapis atau konselor bisa membantu mengidentifikasi hambatan spesifik. Sayangnya, hanya 17% pria Amerika yang mengunjungi profesional kesehatan mental pada 2023 — padahal manfaatnya nyata.

Bukan Hanya Soal Gender — Ini Soal Sistem

Penting untuk tidak menyederhanakan krisis ini sebagai “masalah pria.” Data dari American Institute for Boys and Men menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan sendirian telah meningkat bagi pria maupun perempuan selama dua dekade terakhir. Ada faktor struktural yang bermain di sini.

Urbanisasi yang memecah komunitas lokal. Budaya kerja yang menyita waktu. Teknologi yang menawarkan ilusi koneksi tanpa kedalaman emosional. Pandemi yang memaksa isolasi fisik selama bertahun-tahun. Semua ini berdampak pada semua orang — tetapi karena pria sudah dimulai dari posisi yang lebih rentan secara sosial, mereka merasakan dampaknya lebih keras.

Perspektif Tambahan

Riset dari American Institute for Boys and Men juga menemukan bahwa kesenjangan kelas — diukur dari tingkat pendidikan — memiliki dampak yang bahkan lebih besar daripada kesenjangan gender dalam hal kesepian dan isolasi sosial. Artinya, membangun ekosistem sosial yang sehat membutuhkan pendekatan yang melampaui sekadar “ajarkan pria untuk terbuka.”

Para peneliti di bidang psikologi maskulinitas juga mulai mendekonstruksi narasi bahwa pria secara inheren tidak bisa intim. Program seperti WiseGuyz — program hubungan sehat berbasis sekolah untuk anak laki-laki usia 9th grade — menunjukkan bahwa ketika anak laki-laki diberi ruang aman untuk mengeksplorasi emosi dan menantang norma maskulinitas yang membatasi, kesehatan mental dan kedekatan persahabatan mereka meningkat secara signifikan.

Ini bukti bahwa masalahnya bukan pada diri pria itu sendiri — melainkan pada sistem nilai yang selama ini membentuk mereka.

Persahabatan Adalah Keberanian, Bukan Kelemahan

Apakah pria lebih sulit punya teman? Secara statistik, ya. Tapi bukan karena mereka tidak mampu — melainkan karena selama ini mereka diajarkan untuk tidak mencoba.

Krisis persahabatan pria adalah krisis yang diam-diam merenggut kesehatan, kebahagiaan, bahkan nyawa. Satu dari tujuh pria mungkin tidak punya teman dekat hari ini — tapi itu bisa berubah, satu percakapan yang jujur, satu pesan yang dikirim, satu undangan makan siang yang diterima.

Membuka diri bukan tanda kelemahan. Itu tanda keberanian. Dan persahabatan yang lahir dari keberanian itu — persahabatan yang hadir di saat suka maupun duka — adalah salah satu investasi paling berharga yang bisa dilakukan seorang pria untuk dirinya sendiri.

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan sumber-sumber terpercaya berikut:

  • 🔗 Cleveland Clinic — Are Men Less Likely To Have Friends? (2024)
  • 🔗 Pew Research Center — Men, Women and Social Connections (2025)
  • 🔗 Psychology Today — How Male Friendship Saves Lives (2025)
  • 🔗 Survey Center on American Life — American Perspectives Survey (2021)
  • 🔗 BMC Public Health — Predictors of male loneliness across life stages, University of Melbourne (2024)
  • 🔗 American Psychological Association — Masculinity and Mental Health
  • 🔗 American Institute for Boys and Men — Male Loneliness and Isolation: What the Data Shows
  • 🔗 Greater Good Science Center, UC Berkeley — Why Friendships Among Men Are So Important

© 2026 · Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan saran profesional kesehatan mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *