Musik Setelah Putus Cinta:
Obat atau Racun?
Studi ilmiah terbaru mengungkap bagaimana kepribadian neurotik menentukan apakah musik menjadi penyembuh — atau justru memperburuk luka patah hati.
Setelah putus dari seseorang yang kita sayangi, hal pertama yang sering kita lakukan adalah memasang earphone dan memilih lagu. Ada yang memilih lagu ceria untuk bangkit, ada yang malah memutar lagu sedih berlulang-ulang sambil menangis sendirian. Mana yang lebih baik? Sebuah studi baru yang terbit di jurnal PLoS ONE (2025) mengungkap jawaban ilmiah yang mengejutkan — dan jawabannya sangat bergantung pada kepribadian kita.
Mengapa Putus Cinta Begitu Menyakitkan?
Putus cinta bukan sekadar drama remaja. Bagi para peneliti psikologi, ini adalah salah satu peristiwa paling menyiksa dalam kehidupan manusia. Penelitian menunjukkan bahwa berakhirnya sebuah hubungan romantis berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan, depresi, bahkan dalam kasus ekstrem memicu penyalahgunaan alkohol dan narkoba. Di kalangan anak muda usia 20-an, putus cinta hampir dianggap sebagai “ritus peralihan” — hampir semua orang mengalaminya, tetapi tidak semua orang pulih dengan cara yang sama.
Yang menarik perhatian para peneliti adalah pertanyaan sederhana namun mendalam: mengapa dua orang bisa mengalami putus cinta dengan intensitas dan cara pemulihan yang sangat berbeda? Jawabannya, sebagian besar, terletak pada kepribadian — khususnya pada dimensi kepribadian yang disebut neurotisisme.
Apa Itu Neurotisisme?
Neurotisisme (neuroticism) adalah salah satu dari lima dimensi utama kepribadian dalam model “Big Five” yang banyak digunakan dalam psikologi modern. Individu dengan skor neurotisisme tinggi cenderung mengalami ketidakstabilan emosi, sensitif berlebihan terhadap rangsangan negatif, mudah cemas, sering merasa khawatir, dan lambat pulih dari tekanan emosional.
Ini bukan kelemahan karakter — ini adalah pola kepribadian yang terbentuk sejak dini dan relatif stabil sepanjang hidup. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda neurotisisme (seperti impulsivitas emosional) masih menunjukkan pola yang sama ketika berusia dua puluhan. Bahkan, penelitian pada lansia menemukan bahwa neurotisisme terus memengaruhi kualitas hidup seseorang hingga usia tua.
Individu dengan neurotisisme tinggi memiliki aktivasi lebih besar pada area otak yang memproses emosi negatif, sehingga mereka harus “bekerja lebih keras” secara kognitif hanya untuk mengelola perasaan sehari-hari.
— Berdasarkan temuan neuroimaging dalam literatur psikologi kepribadianDari perspektif neurologis, otak individu neurotik merespons ancaman dan sinyal negatif dengan intensitas yang jauh lebih tinggi. Mereka cenderung mengingat kenangan buruk dengan lebih mudah, menginterpretasikan situasi ambigu sebagai ancaman, dan mempertahankan emosi negatif lebih lama dibandingkan orang dengan skor neurotisisme rendah.
Dalam konteks hubungan romantis, ini berarti individu neurotik lebih mudah merasa tidak puas dalam hubungan, lebih sering menafsirkan perilaku pasangan secara negatif, dan lebih rentan merasakan kesedihan mendalam saat hubungan berakhir.
Musik Sebagai Strategi Koping: Seberapa Umum?
Di era digital ini, mendengarkan musik adalah salah satu cara paling mudah, murah, dan cepat untuk mengatur suasana hati. Tidak heran jika banyak orang — terutama anak muda — secara otomatis beralih ke playlist favorit mereka saat menghadapi tekanan emosional.
Para peneliti sudah lama mengetahui bahwa terdapat hubungan erat antara neurotisisme dan kecenderungan menggunakan musik untuk regulasi emosi. Studi yang dilakukan di Malaysia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat semuanya menunjukkan temuan yang konsisten: individu dengan neurotisisme tinggi lebih cenderung menggunakan musik sebagai alat pengaturan emosi dibandingkan mereka yang memiliki skor neurotisisme rendah.
Individu neurotik lebih sensitif terhadap dampak emosional musik, sehingga mereka lebih mudah dipengaruhi oleh musik — baik dalam arah positif maupun negatif. Inilah yang membuat pilihan jenis musik menjadi sangat krusial.
Tapi pertanyaan besarnya adalah: apakah semua penggunaan musik sebagai koping itu bermanfaat? Ternyata, tidak. Inilah inti dari penelitian yang dilakukan oleh Hanwei He dan koleganya — sebuah penelitian pertama yang secara khusus mengeksplorasi perbedaan antara koping musik adaptif dan maladaptif pada individu neurotik setelah putus cinta.
Dua Wajah Musik: Adaptif vs. Maladaptif
Salah satu kontribusi terpenting dari penelitian ini adalah membedakan secara tegas dua mode penggunaan musik sebagai strategi koping.
- Memilih musik ceria atau inspiratif
- Menggunakan musik untuk meningkatkan emosi positif
- Musik sebagai distraksi sehat
- Mendengarkan untuk memotivasi diri bangkit
- Menemukan makna dan harapan melalui lirik
- Memutar lagu sedih/marah berulang kali
- Menggunakan musik untuk meluapkan emosi negatif
- Musik sebagai pelarian dari masalah
- Terjebak dalam ruminasi emosional
- Memperparah kesedihan tanpa resolusi
Perbedaan ini terdengar sederhana, namun implikasinya sangat besar. Seseorang yang memutar lagu sedih dengan intensi “merasakan dan melepaskan” kesedihan secara sehat berbeda dengan seseorang yang memutar lagu yang sama untuk terus-menerus menghidup-hidupkan kenangan menyakitkan tanpa kemajuan emosional apapun. Yang pertama bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan; yang kedua adalah jebakan yang memperburuk keadaan.
Penelitian sebelumnya oleh Saarikallio dan koleganya menemukan bahwa remaja yang menggunakan musik secara maladaptif lebih rentan mengalami depresi dan memiliki kesehatan mental yang lebih buruk. Temuan ini kini dikonfirmasi dan diperluas dalam konteks dewasa muda dan pengalaman putus cinta.
Apa yang Ditemukan Penelitian Ini?
Untuk menguji hipotesis mereka, para peneliti merekrut 389 mahasiswa yang pernah mengalami setidaknya satu kali putus cinta dalam lima tahun terakhir, dengan durasi hubungan minimal dua bulan. Peserta mengisi serangkaian kuesioner yang mengukur tingkat neurotisisme, pola mendengarkan musik (adaptif vs. maladaptif), dan intensitas emosi negatif yang mereka rasakan akibat putus cinta.
Temuan ini sangat penting karena menunjukkan mekanisme yang selama ini belum terdokumentasi: neurotisisme tidak hanya membuat orang lebih rentan terhadap dampak putus cinta secara langsung, tetapi juga mendorong mereka untuk menggunakan musik dengan cara yang justru memperparah kondisi tersebut.
Bagaimana Mekanismenya?
Untuk memahami mengapa ini terjadi, kita perlu memahami bagaimana otak individu neurotik bekerja. Teori Sensitivitas Penguatan (Reinforcement Sensitivity Theory) yang dikembangkan oleh Jeffrey Gray menjelaskan bahwa individu neurotik memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap sinyal hukuman dan ancaman. Ini membuat mereka secara habitual mengambil informasi negatif dari memori dan membuat penilaian negatif terhadap situasi — bahkan situasi yang objektif ambigu sekalipun.
Tinggi
Maladaptif
(mediator)
Intensif Pasca
Putus Cinta
Jalur melalui koping adaptif tidak terbukti signifikan dalam model SEM penelitian ini.
Dalam konteks musik, individu neurotik yang sudah tenggelam dalam emosi negatif cenderung secara instingtif memilih musik yang selaras dengan perasaan mereka saat ini — musik sedih, marah, atau melankolis. Ini adalah mekanisme yang secara psikologis masuk akal: kita tertarik pada sesuatu yang mencerminkan kondisi emosional kita (mood congruence). Namun, alih-alih membantu pemrosesan emosi, hal ini justru memperkuat dan memperparah kondisi tersebut dalam jangka panjang.
Individu neurotik juga memiliki kecenderungan berpikir kaku dan negatif yang membuat mereka sulit “keluar” dari pola ruminatif — terus-menerus memutar kenangan menyakitkan, menyalahkan diri sendiri, dan membayangkan skenario yang lebih buruk. Musik yang dipilih secara maladaptif memperkuat siklus ini, menciptakan apa yang bisa disebut sebagai “spiral kesedihan bermusik”.
Musik memiliki kekuatan luar biasa untuk membangkitkan dan memperkuat emosi. Dalam tangan yang tepat — atau lebih tepatnya, telinga yang tepat — ia bisa menjadi terapi. Namun ketika seseorang sudah tenggelam dalam emosi negatif, musik yang salah bisa menjadi arus yang menariknya lebih dalam.
— Implikasi dari penelitian He et al., PLoS ONE, 2025Apa Artinya Bagi Kita?
Penelitian ini bukan hanya menarik secara teoretis — ia memiliki implikasi praktis yang nyata, terutama bagi para konselor, pendidik, dan siapa saja yang peduli dengan kesehatan mental anak muda.
Pertama, temuan ini menegaskan bahwa dalam intervensi kesehatan mental, penting untuk tidak hanya menanyakan “apakah kamu mendengarkan musik untuk mengatasi stres?”, tetapi juga “musik seperti apa yang kamu pilih, dan bagaimana kamu menggunakannya?” Dua pertanyaan yang sangat berbeda, dengan implikasi yang sangat berbeda pula.
Kedua, bagi individu yang tahu dirinya memiliki kecenderungan neurotik, hasil penelitian ini bisa menjadi pengingat penting: sadari kebiasaan mendengarkan musikmu, terutama di saat-saat rentan seperti setelah putus cinta. Apakah musikmu membantumu bergerak maju, atau justru menjeratmu di tempat yang sama?
Tips Praktis: Mendengarkan Musik Secara Sehat Setelah Putus Cinta
Keterbatasan dan Arah Penelitian Selanjutnya
Seperti semua penelitian ilmiah yang baik, He dan koleganya juga mengakui sejumlah keterbatasan. Penelitian ini bersifat cross-sectional — artinya, data diambil satu kali, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Apakah neurotisisme menyebabkan penggunaan musik maladaptif yang kemudian memperburuk emosi? Atau justru kondisi emosional yang parah mendorong seseorang menggunakan musik secara maladaptif?
Selain itu, seluruh responden adalah mahasiswa dari China, sehingga generalisasi lintas budaya perlu dilakukan dengan hati-hati. Pola penggunaan musik dan makna yang dilekatkan pada musik sangat dipengaruhi oleh konteks budaya.
Penelitian longitudinal di masa depan — yang mengikuti individu dari sebelum hingga jauh setelah putus cinta — akan memberikan gambaran yang lebih kaya tentang bagaimana pola koping musik berubah seiring waktu dan bagaimana hal tersebut berdampak pada pemulihan emosional jangka panjang.
Kesimpulan: Musik Adalah Cermin, Bukan Sekadar Obat
Penelitian He et al. (2025) membawa kita pada pemahaman baru yang penting: musik bukanlah obat universal untuk luka hati. Kekuatannya bergantung pada cara kita menggunakannya — dan cara kita menggunakannya sangat dipengaruhi oleh kepribadian kita.
Bagi individu dengan neurotisisme tinggi, musik seperti cermin yang memantulkan kembali apa yang ada di dalam diri. Jika yang ada di dalam adalah rasa sakit, dan kita memilih musik yang memperkuat rasa sakit itu tanpa arah yang konstruktif, maka cermin itu hanya akan membuat kita semakin larut.
Namun kabar baiknya: kita bisa belajar menggunakan cermin itu dengan lebih bijak. Kesadaran tentang pola mendengarkan musik kita — apakah ia adaptif atau maladaptif — adalah langkah pertama menuju penggunaan musik sebagai alat penyembuhan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan “musik apa yang harus didengarkan setelah putus cinta?”, melainkan “siapa dirimu sebelum dan sesudah musik itu selesai diputar?”
He, H., Chen, S., & Hua, C. (2025). Adaptive or maladaptive music-listening coping strategy: How does neuroticism use music after experiencing a romantic relationship breakup? PLoS ONE, 20(8), e0331373. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0331373 | PMC12396676