Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

8 Faktor yang Mempengaruhi Kebahagiaan Manusia Menurut Martin Seligman

Kebahagiaan adalah suatu keadaan seseorang yang berada dalam afek postif (perasaan yang positif) dan untuk mencapai kebahagiaan yang autentik, seseorang harus dapat mengidentifikasikan, mengolah, dan melatih serta menggunakan kekuatan (strength) serta keutamaan (virtue) yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebahagiaan merupakan konsep yang subjektif karena setiap seseorang memiliki tolak ukur kebahagiaan yang berbeda-beda. Setiap seseorang juga memiliki faktor yang berbeda sehingga bisa mendatangkan kebahagiaan untuknya. Faktor-faktor itu antara lain uang, status pernikahan, kehidupan sosial, usia, kesehatan, emosi negatif, pendidikan, iklim, ras, dan jenis kelamin, serta agama atau tingkat religiusitas seseorang.

1. Budaya

Faktor budaya dan sosial-politik yang spesifik berperan dalam tingkat kebahagiaan seseorang. Hasil penelitian lintas budaya menjelaskan bahwa hidup dalam suasana demokrasi yang sehat dan stabil lebih bahagia daripada suasana pemerintahan yang penuh dengan konflik militer. Selain itu, budaya dengan kesamaan sosial memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Kebahagiaan juga lebih tinggi pada kebudayaan individualistis dibandingkan dengan kebudayaan kolektivistis. Penelitian lain menyebutkan bahwa kebahagiaan akan lebih tinggi dirasakan di negara yang sejahtera di mana institusi umum berjalan dengan efisien dan terdapat hubungan yang memuaskan antara warga dengan anggota birokrasi pemerintahan.

2. Kehidupan Sosial

Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua orang dari 10 % orang yang paling bahagia sedang terlibat dalam hubungan romantis. Menurut Seligman, orang yang sangat bahagia menjalani kehidupan sosial yang kaya dan memuaskan, paling sedikit menghabiskan waktu sendirian, dan mayoritas dari mereka bersosialisasi.

3. Agama atau Religiusitas

Menurut Seligman, orang yang religius lebih bahagia dan lebih puas terhadap kehidupan daripada orang yang tidak religius. Hal ini dikarenakan agama memberikan harapan akan masa depan dan menciptakan makna dalam hidup bagi manusia. Selain itu, keterlibatan seseorang dalam kegiatan keagamaan atau komunitas agama dapat memberikan dukungan sosial bagi orang tersebut. Penelitian lain menyebutkan bahwa keterlibatan dalam suatu agama juga diasosiasikan dengan kesehatan fisik dan psikologis yang lebih baik yang dapat dilihat dari kesetiaan dalam perkawinan, perilaku prososial, tidak berlebihan dalam makanan dan minuman, dan bekerja keras.

Penelitian yang dilakukan Iyengar menjelaskan bahwa semakin fundamentalis aliran agama maka semakin optimis pengikutnya. Hal ini dapat dilihat dari orang Yahudi Ortodoks, Muslim, dan Kristen fundamentalis jauh lebih optimis daripada Yahudi Reformasi dan Unitarian. Iyengar menjelaskan peningkatan optimisme yang ditimbulkan oleh peningkatan religiusitas sepenuhnya disebabkan oleh munculnya harapan yang lebih besar. Hubungan antara harapan akan masa depan dan keyakinan beragama merupakan landasan mengapa keimanan sangat efektif melawan keputusasaan dan meningkatkan kebahagiaan.

4. Pernikahan

Seligman mengatakan bahwa pernikahan sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan. Terdapat dua penjelasan mengenai hubungan kebahagiaan dan pernikahan, yaitu orang yang bahagia lebih atraktif sebagai pasangan daripada orang yang tidak bahagia. Penjelasan kedua yaitu pernikahan memberikan banyak keuntungan yang dapat membahagiakan seseorang, diantaranya keintiman psikologis dan fisik, memiliki anak, membangun keluarga, menjalankan peran sebagai pasangan dan orang tua, menguatkan identitas dan menciptakan keturunan. Kebahagiaan orang yang menikah memengaruhi panjang usia dan besar penghasilan dan ini berlaku bagi pria dan wanita.

5. Usia

Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa kemudaan (usia muda) dianggap mencerminkan keadaan yang lebih bahagia. Namun setelah diteliti lebih dalam ternyata usia tidak berhubungan dengan kebahagiaan. Sebuah penelitian otoritatif atas 60.000 orang dewasa dari 40 bangsa membagi kebahagiaan dalam tiga komponen, yaitu kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif. Kepuasan hidup sedikit meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, afek positif sedikit melemah, dan afek negatif tidak berubah. Hal yang berubah ketika seseorang menua adalah intensitas emosi di mana perasaan “mencapai puncak dunia”dan “terpuruk dalam keputusasaan” berkurang seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman.

6. Uang

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk melihat hubungan antara kebahagiaan dan uang. Umumnya, penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan kebahagiaan antara orang yang tinggal di negara kaya dengan orang yang tinggal di negara miskin. Perbandingan lintas-negara sulit untuk dijelaskan karena negara yang lebih kaya juga memiliki angka buta huruf yang lebih rendah, tingkat kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, kebebasan yang lebih luas, dan barang materiil yang lebih banyak. Di negara yang sangat miskin, kaya bisa berarti lebih bahagia. Namun di negara yang lebih makmur di mana hampir semua orang memperoleh kebutuhan dasar, peningkatan kekayaan tidak begitu berdampak pada kebahagiaan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penilaian seseorang terhadap uang akan mempengaruhi kebahagiaannya lebih daripada uang itu sendiri.

7. Kesehatan

Kesehatan objektif yang baik tidak begitu berkaitan dengan kebahagiaan. Menurut Seligman, yang penting adalah persepsi subjektif kita terhadap seberapa sehat diri kita. Berkat kemampuan beradaptasi terhadap penderitaaan, seseorang bisa menilai kesehatannya secara positif bahkan ketika sedang sakit. Ketika penyakit yang menyebabkan kelumpuhan sangat parah dan kronis, kebahagiaan dan kepuasan hidup memang menurun. Penelitian menjelaskan bahwa orang yang memiliki lima atau lebih masalah kesehatan, kebahagiaan mereka berkurang sejalan dengan waktu.

8. Jenis Kelamin

Jenis kelamin memiliki hubungan yang tidak konsisten dengan Kebahagiaan. Wanita memiliki kehidupan emosional yang lebih ekstrem daripada pria. Wanita mengalami lebih banyak emosi positif dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan pria. Seligman juga menjelaskan bahwa tingkat emosi rata-rata pria dan wanita tidak berbeda namun perempuan lebih bahagia dan lebih sedih daripada pria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *