Attachment dapat berarti kelekatan yang memiliki kontribusi dalam sebuah hubungan, baik antara orangtua dan anak maupun antarpasangan. Attachment didefinisikan oleh Feldman (1996) sebagai emosional yang positif yang berkembang antara anak dan orang tua. Menurut Seifert dan Hoffnung (1994) attachment ialah hubungan emosional yang inti antara dua orang ditandai dengan adanya timbal balik saling memberi kasih sayang, kedekatan fisik, dan keinginan untuk saling mempertahankan. Menurut Harlow, attachment berkembang dari waktu ke waktu sebagai hasil interaksi yang berulang-ulang antara bayi dengan ibunya, yang terdiri dari hubungan timbal balik yang sama kuat antara ibu dan anak, walaupun satu sama lain berbeda dalam memenuhi kebutuhan kedekatan fisik dan emosionalnya. Menurut Seiferd dan Hoffnung (1994) semakin besar respon ibu terhadap sinyal-sinyal, seperti tangisan, senyuman, sentuhan dan kelekatan yang diberikan anak, maka akan semakin kuat keterikatan di antara keduanya.
Bowlby (1982) menyebutkan ada tiga jenis attachment yaitu secure attachment (aman), anxious resistant attachment (cemas ambivalen), dan anxious avoidant attachment (cemas menghindar). Disini akan banyak dibahas mengenai secure attachment. Menurut Ainsworth (1997) secure attachment adalah pola yang digambarkan sebagai individu yang mempunyai harga diri dan kepercayaan interpersonal yang tinggi, mempunyai pandangan yang positif tentang dirinya dan orang lain dan mampu membuat hubungan interpersonal berdasarkan rasa saling percaya. Menurut Bowlby (1982) secure attachment adalah interaksi orang tua dengan anak, anak merasa percaya terhadap orang tua sebagai figur yang selalu mendampingi, sensitif, dan responsif, penuh cinta serta kasih sayang saat individu mencari perlindungan dan kenyamanan, dan selalu membantu atau menolongnya dalam menghadapi situasi yang menakutkan dan mengancam. Bowlby juga menunjukan aspek secure attachment meliputi aspek self image atau self evaluation dan dimensi social-self. Secure attachment adalah derajat keamanan yang dialami dalam hubungan interpersonal, yang berakar pada rasa percaya dengan ditandai adanya keintiman, memiliki karakteristik self-esteem dan kepercayaan interpersonal yang tinggi.
Aspek Attachment/Secure Attachment
Attachment/kelekatan dibentuk dari aspek-aspek yang mendasarinya. Menurut Papalia dkk. (2008) aspek kelekatan antara lain:
- Sensitivitas Figur : Sensitivitas figur dapat berupa seberapa besar kepekaan figur terhadap kebutuhan individu atau sejauh mana figur lekat dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhuan individu.
- Responsivitas Figur : Responsivitas adalah bagaimana figur lekat menanggapi kebutuhan individu
Sementara menurut Ainsworth (1997) ada beberapa aspek-aspek yang membentuk kelekatan yaitu:
- Hangat (warm), Kehangatan yang ditunjukkan oleh individu yang menjadi figur lekat akan memberikan perasaan nyaman dan santai (relax).
- Sensitif (sensitive), figur lekat mampu menunjukkan rasa simpatik dan mengerti akan kebutuhan.
- Responsif (responsive), figur lekat mampu menyikapi kebutuhana akan rasa nyaman, rasa ingin dilindungi, dan selalu memberikan respon terhadap keinginan remaja.
- Dapat diandalkan (dependable), tempat di mana individu menggantungkan harapan dan kebutuhannya akan rasa aman dan nyaman, orang tua dapat diandalkan oleh anak terutama ketika anak membutuhkan dukungan atau dalam keadaan tertekan.
Referensi :
Adiswanisa, L., & Kristiana, I. F. (2014). Hubungan antara secure attachment dengan kecenderungan melakukan kekerasan dalam pacaran pada mahasiswa teknik mesin dan teknik geologi Universitas Diponegoro Semarang. Jurnal Empati, 3(3), 128-137.
Anggraini, N. (2017). HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI REMAJA TERHADAP SECURE ATTACHMENT DARI IBU DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA AKHIR (Doctoral dissertation, Universitas Mercu Buana Yogyakarta).