Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Nature Index 2026: China Melaju Paling Kencang serta Jepang dan Korea Selatan Tumbuh Lebih Cepat dari Barat

Nature Index 2026: Apakah Tetangga Asia Timur Mengejar China?
Sains & Kebijakan Riset

Nature Index 2026: Apakah Jepang dan Korea Selatan Mulai Mengejar Laju China?

Di balik dominasi China yang terus melesat, dua tetangganya di Asia Timur diam-diam mencatat pertumbuhan riset yang justru melampaui raksasa-raksasa Barat.

Setiap tahun, dunia riset global menahan napas menjelang rilis Nature Index Research Leaders — sebuah papan skor yang dianggap salah satu indikator paling jujur tentang ke mana arah kekuatan sains dunia bergeser. Tahun ini, hasilnya kembali menegaskan satu hal yang sudah lama diduga banyak pengamat: China bukan lagi pesaing yang sedang mengejar, melainkan pemimpin yang sedang memperlebar jarak. Namun ada kabar yang mungkin lebih menarik daripada angka-angka China itu sendiri. Dua negara tetangganya di Asia Timur, Jepang dan Korea Selatan, justru mencatat pertumbuhan kontribusi riset yang melampaui negara-negara besar di Eropa dan Amerika Utara.

Laporan yang dipublikasikan Nature pada 10 Juni 2026 ini menunjukkan bahwa kontribusi China terhadap artikel-artikel yang dilacak Nature Index melonjak 22% antara 2024 dan 2025 — jauh meninggalkan sembilan negara lain di papan sepuluh besar. Tetapi yang membuat laporan ini layak dibaca bukan hanya soal China yang terus tumbuh, melainkan bagaimana Jepang (peringkat lima) dan Korea Selatan (peringkat tujuh) mencatat kenaikan Share hampir 10% — sebuah angka yang melampaui pertumbuhan Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris yang justru melambat.

Sekilas Angka Kunci

+22%Kenaikan Share China 2024–2025
~10%Kenaikan Share Jepang & Korsel
5%Belanja R&D Korsel dari PDB (2023)
¥10 TDana abadi riset Jepang

Pertumbuhan yang Harus Dibaca dengan Hati-Hati

Penting untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa Jepang dan Korea Selatan kini setara dengan China dalam hal momentum riset. Tahun ini, Nature Index melakukan perubahan metodologis besar: basis data mereka kini menyertakan sekitar 20.000 artikel tambahan dari jurnal-jurnal sains terapan, serta sekitar 2.000 artikel dari jurnal ilmu sosial yang baru dimasukkan. Karena total jumlah artikel dalam database bertumbuh sekitar 11% akibat perluasan ini, kenaikan Share Jepang dan Korea Selatan yang sedikit di bawah angka itu sebenarnya berarti mereka sedikit kehilangan posisi relatif dibanding China jika dihitung dengan metrik Adjusted Share — metrik yang mengoreksi efek pembesaran database tersebut.

Namun di sinilah letak kabar baiknya: meski Adjusted Share Korea Selatan turun 1% dan Jepang turun 2%, angka itu masih jauh lebih baik dibanding penurunan Adjusted Share Amerika Serikat yang mencapai 6%, serta Jerman dan Inggris yang masing-masing turun 7%. Bahkan institusi sekelas Harvard University tercatat kehilangan posisi sebagai universitas dengan kontribusi Nature Index tertinggi di dunia, digeser oleh Zhejiang University di Hangzhou, China.

“South Korea’s research system has long been tied to its industrial strategy and bolstered by its advanced manufacturing and technology-heavy exports.” — Ramón Pacheco Pardo, King’s College London

Pernyataan tersebut menggambarkan inti dari apa yang membedakan pendekatan Asia Timur dari banyak negara Barat: riset tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas akademik murni, tetapi terjalin erat dengan strategi industri nasional.

Bagaimana Jepang Membalik Arah “Malaise” Risetnya

Selama hampir satu dekade, Jepang dikenal mengalami semacam “malaise” riset — penurunan tajam Adjusted Share dari 2015 hingga awal 2020-an, diperparah oleh kekhawatiran soal pemotongan dana universitas. Motoko Kotani, penasihat presiden Tohoku University, melihat sinyal bahwa hal ini mulai berbalik. Berikut adalah rangkaian langkah yang menurutnya membentuk kebangkitan tersebut.

Pertengahan 2010-an — Mengubah Cara Berpikir tentang Sains

Pembuat kebijakan Jepang mulai bertanya: untuk siapa sebenarnya sains itu ada? Jawabannya bukan lagi “untuk ilmuwan”, melainkan “untuk masyarakat”. Pergeseran kerangka berpikir ini mendorong riset menjadi lebih interdisipliner karena masalah masyarakat tidak bisa diselesaikan oleh satu disiplin saja.

2017 — Designated National University Corporation System

Pemerintah memilih sejumlah kecil universitas yang dianggap mampu menyaingi institusi riset kelas dunia, memberi mereka keleluasaan dari regulasi tertentu agar bisa mendirikan perusahaan spin-off dan menawarkan gaji lebih tinggi untuk menarik peneliti asing.

2023 — Dana Abadi ¥10 Triliun

Pemerintah meluncurkan dana abadi senilai sekitar US$63 miliar, investasi akademik paling ambisius dalam beberapa dekade, meniru model dana abadi universitas Amerika yang hasil investasinya digunakan untuk mendanai riset jangka panjang. Setahun kemudian, Tohoku University menjadi penerima pertama dana tersebut.

2023 — Program ASPIRE

Japan Science and Technology Agency meluncurkan program ASPIRE untuk memperkuat kolaborasi internasional. Ilmuwan terbaik dapat mengajukan hibah hingga ¥500 juta untuk proyek bersama mitra dari negara-negara tertentu, di bidang strategis seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, dan semikonduktor.

Catatan Realistis

Kotani sendiri mengakui bahwa internasionalisasi masih menjadi tantangan terbesar Jepang. Akademia di negara ini masih bergumul dengan cara membuat universitas lebih terbuka, lebih menarik bagi peneliti asing, dan lebih siap berkolaborasi dengan institusi luar negeri.

Korea Selatan: Riset yang Tumbuh dari Ekosistem Industri

Jika Jepang menemukan momentumnya lewat reformasi kebijakan terstruktur, Korea Selatan justru menunjukkan kekuatan yang lebih organik — tumbuh dari keterkaitan erat antara riset, manufaktur canggih, dan ekspor berbasis teknologi. Lonjakan Share terbesar Korea Selatan terjadi di bidang sains terapan, naik 14% dari 2024 ke 2025, sementara performa sains dasarnya juga kuat dengan kenaikan 11%.

So Young Kim, peneliti kebijakan sains dan teknologi di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), menyebut fenomena ini sebagai kebangkitan kembali kebijakan industri yang berakar dari era pembangunan ekonomi Korea Selatan di masa lalu. Pada 2023, negara ini membelanjakan hampir 5% dari seluruh output ekonominya untuk riset dan pengembangan — hanya kalah dari Israel di antara negara-negara anggota OECD. Yang menarik, 81% dari belanja riset Korea Selatan pada 2024 justru berasal dari sektor bisnis, bukan pemerintah.

Insight Kebijakan

Pemerintah Korea Selatan menargetkan 44% dari anggaran risetnya dialokasikan untuk riset “pionir” yang berfokus pada teknologi yang dianggap mengubah permainan, seperti kecerdasan buatan dan teknologi kuantum. Total anggaran riset 2025 tercatat naik lebih dari 16% dibanding 2024.

Namun, sistem ini bukan tanpa celah. Pacheco Pardo mencatat bahwa Korea Selatan masih kurang dominan dalam riset dasar (fundamental research) dibandingkan China, Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari peringkatnya yang berada di posisi delapan untuk sains dasar, sementara di sains terapan ia berada di posisi tiga. Kesenjangan ini menjadi salah satu alasan mengapa institusi-institusi Korea Selatan semakin mempertimbangkan kemitraan dengan negara-negara yang lebih kuat dalam riset fundamental.

Ringkasan Perbandingan

Perubahan Share & Adjusted Share, 2024–2025 (berdasarkan Nature Index 2026)
Negara Peringkat Global Kenaikan Share Perubahan Adjusted Share
China 1 +22% Naik signifikan
Jepang 5 ~10% −2%
Korea Selatan 7 ~10% −1%
Amerika Serikat 2* Lebih rendah dari Jepang & Korsel −6%
Jerman 3* Lebih rendah dari Jepang & Korsel −7%
Inggris 4* Lebih rendah dari Jepang & Korsel −7%

*Estimasi posisi relatif berdasarkan narasi laporan Nature Index 2026; angka peringkat pasti dapat dilihat pada tabel interaktif resmi Nature Index.

Mengapa Ini Penting bagi Dunia Pendidikan dan Riset Global

Pergeseran lanskap riset Asia Timur ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Berbagai liputan pendidikan global — mulai dari sorotan media bisnis tentang investasi riset hingga laporan media pendidikan tentang reformasi universitas — secara konsisten menunjukkan tren yang sama: negara-negara yang berhasil mendorong kolaborasi lintas sektor antara universitas, industri, dan pemerintah cenderung lebih tangguh menghadapi tekanan anggaran riset global. Tren pemotongan dana riset di sejumlah negara Barat dalam beberapa tahun terakhir membuat model “ekosistem terintegrasi” ala Korea Selatan dan reformasi struktural ala Jepang semakin relevan untuk dipelajari oleh sistem pendidikan tinggi di negara lain, termasuk Indonesia.

Bagi pembuat kebijakan pendidikan dan periset di kawasan Asia Tenggara, kisah Jepang dan Korea Selatan menawarkan pelajaran praktis: pertumbuhan riset yang berkelanjutan tidak semata soal menambah anggaran, tetapi soal bagaimana anggaran itu diarahkan secara strategis — ke bidang prioritas, ke institusi dengan kapasitas eksekusi terbaik, dan ke insentif yang menarik talenta global.

Ringkasan Indeks

Tiga Hal yang Perlu Diingat dari Nature Index 2026

  • China masih melaju paling kencang — kenaikan Share 22% memperlebar jarak dengan seluruh kompetitor di papan sepuluh besar, didorong oleh investasi riset publik yang masif.
  • Jepang dan Korea Selatan tumbuh lebih cepat dari Barat — meski sedikit kehilangan posisi relatif terhadap China setelah disesuaikan dengan perluasan database, performa keduanya jauh lebih baik dibanding AS, Jerman, dan Inggris yang justru mengalami penurunan Adjusted Share.
  • Strategi berbeda, hasil serupa — Jepang menempuh jalur reformasi kelembagaan dan dana abadi besar, sementara Korea Selatan mengandalkan ekosistem industri-riset yang sudah mengakar sejak era pembangunan ekonominya. Keduanya menunjukkan bahwa tidak ada satu resep tunggal untuk membangun kekuatan riset nasional.

Sumber & Referensi

  1. Plackett, B. (2026). Nature Index 2026 Research Leaders rankings: are China’s East Asian neighbours keeping pace with it? Nature, 10 Juni 2026. nature.com/articles/d41586-026-01662-x
  2. Forbes Education. forbes.com/education — liputan tren investasi dan kebijakan pendidikan tinggi global.
  3. EdSurge. edsurge.com — analisis inovasi dan reformasi sistem pendidikan tinggi.
  4. The New York Times, Bagian Pendidikan. nytimes.com/section/education
  5. USA Today, Bagian Pendidikan. usatoday.com/news/education

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *