Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bergadang Dapat Meningkatkan Depresi, menurut Psikolog

Tidur di Jam Ini Bisa Menggandakan Risiko Depresi
Kesehatan Mental · Riset Terbaru

Tidur di Jam Ini Bisa
Menggandakan Risiko Depresi

Studi terbaru mengungkap bahwa kebiasaan tidur setelah tengah malam bukan sekadar masalah produktivitas — ini bisa berdampak serius pada kesehatan jiwa Anda.

19 Mei 2026 Riset: University of Surrey, 2025 Estimasi baca: 8 menit
🌙 ☽ 🌙

Bayangkan ini: Anda rebahan di kasur pukul satu dini hari, mata masih terpaku ke layar ponsel. Anda merasa seperti itulah ritme alami Anda — si “night owl” yang produktif di malam hari. Tapi tahukah Anda bahwa kebiasaan yang tampak sepele ini mungkin sedang diam-diam menggerogoti kesehatan mental Anda?

Sebuah studi ilmiah yang diterbitkan pada Maret 2025 di jurnal bergengsi PLOS ONE oleh peneliti dari University of Surrey, Inggris, menyimpulkan temuan yang cukup mengejutkan: orang-orang yang memiliki kebiasaan tidur larut malam — yang dikenal dengan istilah evening chronotype — berisiko mengalami depresi yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang terbiasa tidur lebih awal.

546
Partisipan mahasiswa dalam studi University of Surrey
50%
Proporsi anak muda yang tergolong evening chronotype
2×
Peningkatan risiko depresi pada night owl dibanding early bird
75K
Responden dalam studi Stanford yang menguatkan temuan ini

Apa Itu Chronotype dan Mengapa Ini Penting?

Setiap manusia terlahir dengan jam biologis internal yang unik, yang disebut chronotype. Jam inilah yang menentukan kapan Anda merasa paling berenergi, kapan Anda mulai mengantuk, dan kapan tubuh Anda secara alami ingin beristirahat. Ada dua ujung ekstrem: morning chronotype (si “early bird” yang segar di pagi hari) dan evening chronotype (si “night owl” yang baru bergairah di malam hari).

Chronotype bukan soal kebiasaan semata — ini memiliki dasar genetik yang kuat. Dr. Simon Evans, dosen neurosains dari University of Surrey yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa eveningness — atau kecenderungan menjadi night owl — adalah tendensi biologis alami yang berpuncak pada masa dewasa muda. Menariknya, sekitar 10 hingga 20 persen populasi dewasa secara konsisten tidur setelah pukul 01.00 dini hari, dan hingga separuh dari mahasiswa termasuk dalam kategori evening chronotype.

Fakta Kunci dari Studi ini Penelitian melibatkan 546 mahasiswa berusia 17–28 tahun. Mereka mengisi kuesioner komprehensif mencakup pola tidur, konsumsi alkohol, kecenderungan ruminasi (pikiran berulang negatif), tingkat mindfulness, serta gejala depresi dan kecemasan. Hasilnya: evening chronotype secara konsisten menunjukkan gejala depresi yang lebih tinggi, kualitas tidur yang lebih buruk, konsumsi alkohol yang lebih banyak, dan tingkat mindfulness yang lebih rendah.

Mengapa Tidur Larut Malam Menaikkan Risiko Depresi?

Ini bukan hubungan yang sederhana dan langsung. Para peneliti menemukan bahwa kaitan antara chronotype malam dan depresi sebenarnya dimediasi oleh tiga faktor utama yang saling berinteraksi.

Rantai Sebab-Akibat: Night Owl → Depresi

🦉 Tidur larut malam (evening chronotype)
→
😴 Kualitas tidur buruk & kurang REM sleep
→
🧠 Mindfulness rendah & pikiran ruminatif
→
🌧️ Gejala depresi meningkat

1. Kualitas Tidur yang Menurun Drastis

Saat Anda tidur larut, Anda tidak hanya kehilangan jumlah jam tidur — Anda juga kehilangan kualitasnya. Tidur terlambat secara khusus memangkas fase REM (Rapid Eye Movement) sleep, yaitu tahap tidur yang paling berperan dalam regulasi emosi, pemrosesan memori, dan pemulihan psikologis. REM sleep paling banyak terjadi pada paruh kedua malam, sehingga mereka yang tidur setelah tengah malam otomatis kehilangan porsi terbesarnya.

“REM sleep memiliki keterkaitan kuat dengan regulasi suasana hati — semakin sedikit REM, semakin buruk suasana hati. Perubahan pada REM sleep dipandang sebagai faktor risiko untuk berbagai gangguan neuropsikiatri seperti depresi, gangguan kecemasan umum, dan PTSD.”

— Dr. Sara Wong, peneliti dari Imperial College London

2. Mindfulness yang Lebih Rendah

Temuan paling signifikan dari studi University of Surrey adalah peran mindfulness sebagai mediator kunci. Night owl cenderung memiliki tingkat “acting with awareness” yang lebih rendah — yaitu kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada momen saat ini alih-alih bertindak secara otomatis atau pikiran melayang.

Saat seseorang tidur larut malam dan bangun dalam kondisi kurang tidur, kemampuan mereka untuk bersikap mindful terhadap pikiran dan emosi pun melemah. Pikiran negatif lebih mudah berputar tanpa kendali — sebuah pola yang dikenal sebagai ruminasi, yang merupakan salah satu mekanisme psikologis utama di balik depresi.

💡
Yang Membuat Temuan Ini Berbeda Studi ini menemukan bahwa hubungan antara chronotype malam dan depresi sepenuhnya dimediasi oleh faktor-faktor tertentu dari mindfulness — terutama “acting with awareness” dan kemampuan “describing” (mengidentifikasi dan memberi label emosi). Artinya: bukan sekadar jam tidurnya yang berbahaya, melainkan bagaimana kebiasaan itu mengikis kemampuan Anda mengelola pikiran.

3. Konsumsi Alkohol yang Lebih Tinggi

Night owl dalam studi ini juga tercatat mengonsumsi lebih banyak alkohol dibandingkan kelompok morning chronotype. Alkohol adalah depresan sistem saraf pusat yang, meski sementara bisa membuat seseorang merasa rileks, justru mengganggu arsitektur tidur dan memperburuk gejala depresi dalam jangka panjang. Para peneliti menduga bahwa aktivitas sosial yang terjadi di malam hari — yang sering kali melibatkan alkohol — menjadi bagian dari pola hidup night owl yang secara kumulatif meningkatkan risiko depresi.


Studi Stanford: Bahkan Night Owl “Murni” Tidak Terlindungi

Mungkin Anda berpikir: “Tapi saya memang naturally seorang night owl — jadi itu bukan masalah bagi saya, kan?” Ternyata tidak sesederhana itu.

Sebuah penelitian besar dari Stanford University yang melibatkan hampir 75.000 orang dewasa menemukan sesuatu yang mengejutkan: terlepas dari chronotype alami seseorang, mereka yang secara konsisten tidur terlambat menunjukkan tingkat gangguan mental yang lebih tinggi, termasuk depresi dan kecemasan. Studi ini dipublikasikan di jurnal Psychiatry Research.

“Kami menemukan bahwa keselarasan dengan chronotype Anda bukanlah faktor penentu utama, dan yang benar-benar berbahaya bagi kesehatan mental Anda adalah kondisi terjaga hingga larut malam itu sendiri.”

— Prof. Jamie Zeitzer, PhD, Stanford University School of Medicine

Tim peneliti Stanford mengajukan hipotesis yang disebut “Mind After Midnight” untuk menjelaskan fenomena ini. Teori ini menyatakan bahwa pada larut malam, otak manusia mengalami perubahan neurologis dan fisiologis yang mendorong impulsivitas, suasana hati negatif, penilaian yang buruk, dan perilaku berisiko. Isolasi sosial di malam hari — saat kebanyakan orang sudah tidur — juga menghilangkan “pagar pengaman” psikologis yang biasanya tersedia melalui interaksi sosial.

Sebelum 01.00
Jam tidur yang disarankan Stanford untuk menjaga kesehatan mental optimal
Setelah 01.00
Waktu ketika risiko gangguan mental, depresi, dan kecemasan meningkat signifikan

Otak Anda di Balik Layar: Apa yang Terjadi Secara Biologis?

Untuk memahami mengapa tidur larut begitu berbahaya bagi kesehatan mental, kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak dan tubuh Anda saat ritme sirkadian terganggu.

Sistem sirkadian — jam biologis internal tubuh — dikendalikan oleh suprachiasmatic nucleus (SCN), sekelompok neuron di hipotalamus yang peka terhadap cahaya. SCN mengatur siklus 24 jam dari hormon, suhu tubuh, metabolisme, dan perilaku tidur-bangun. Ketika Anda secara konsisten tidur pada jam yang tidak sinkron dengan ritme cahaya alami matahari, terjadilah circadian misalignment — ketidakselarasan sirkadian.

Ketidakselarasan ini berdampak domino pada sistem neurokimia otak:

Dampak Circadian Misalignment pada Otak

⚗️ Serotonin & dopamin terganggu
→
😔 Mood tidak stabil, anhedonia
🌙 Melatonin ditekan cahaya buatan
→
⏱️ Siklus tidur-bangun kacau
📉 Kortisol pagi hari tidak normal
→
😰 Stres kronis, kecemasan

Tidur dan ritme sirkadian bukan hanya soal rasa lelah — keduanya adalah jendela menuju kesehatan mental. Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menegaskan bahwa gangguan pada kualitas, kesinambungan, dan waktu tidur dapat memicu atau memperburuk gejala psikiatri pada individu yang rentan. Hubungan ini bersifat dua arah: tidur buruk memperparah depresi, dan depresi memperburuk kualitas tidur.


Siapa yang Paling Rentan?

Meski temuan ini relevan untuk semua usia, ada kelompok yang perlu memberikan perhatian ekstra:

Anak Muda dan Mahasiswa

Eveningness mencapai puncaknya pada masa dewasa muda. Dr. Evans mencatat bahwa hingga 50 persen mahasiswa masuk kategori night owl, dan tingkat depresi pada kelompok usia ini lebih tinggi dari sebelumnya. Kombinasi ini menciptakan badai sempurna: biologi yang mendorong tidur larut, ditambah tekanan akademis, kebiasaan sosial malam hari, dan lingkungan asrama yang penuh gangguan.

Pekerja Shift Malam

Mereka yang bekerja di shift malam secara struktural dipaksa untuk hidup melawan jam biologis mereka. Penelitian dari American Psychiatric Association menunjukkan bahwa gangguan tidur dan sirkadian sangat terkait dengan onset dan perburukan kondisi seperti depresi, gangguan bipolar, dan kecemasan.

Pengguna Media Sosial Intensif di Malam Hari

Cahaya biru dari layar ponsel dan komputer secara aktif menekan produksi melatonin — hormon yang memberi sinyal pada otak bahwa sudah waktunya tidur. Menggulir media sosial pada malam hari bukan hanya membuat Anda terjaga lebih lama, tetapi juga secara fisiologis mengganggu proses persiapan tidur otak Anda.

⚠️
Perlu Diperhatikan Penelitian ini bersifat korelasional — bukan kausal. Artinya, kita belum bisa memastikan 100% bahwa tidur larut menyebabkan depresi, atau apakah depresi menyebabkan seseorang tidur larut. Kemungkinan besar hubungannya bersifat dua arah. Namun, bukti-bukti yang terakumulasi dari berbagai studi besar sangat kuat menunjukkan bahwa waktu tidur adalah faktor risiko yang perlu diperhatikan secara serius.

Bisakah Chronotype Diubah?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika chronotype memiliki dasar genetik, apakah kita benar-benar bisa mengubahnya? Jawabannya kompleks.

Para ahli umumnya tidak menganjurkan upaya keras untuk mengubah chronotype secara drastis, karena ini bisa menciptakan frustrasi dan stres yang justru kontraproduktif. Namun, ada perbedaan penting antara chronotype sebagai preferensi biologis dan perilaku aktual yang bisa dimodifikasi.

Bahkan tanpa mengubah chronotype secara fundamental, Anda bisa “menggeser” waktu tidur ke arah yang lebih sehat melalui strategi yang disebut chronotherapy. Beberapa pendekatan berbasis bukti ilmiah yang direkomendasikan meliputi:

🌿 7 Langkah Berbasis Sains untuk Tidur Lebih Sehat

1
Geser jam tidur secara bertahap. Majukan waktu tidur Anda 15–30 menit setiap beberapa hari. Perubahan bertahap jauh lebih berkelanjutan daripada perubahan drastis yang sering berakhir kegagalan.
2
Manfaatkan paparan cahaya pagi. Terpapar sinar matahari di pagi hari (idealnya dalam 30–60 menit setelah bangun) adalah sinyal terkuat yang bisa Anda berikan kepada jam biologis internal Anda untuk “mereset” dirinya lebih awal.
3
Kurangi cahaya biru 2 jam sebelum tidur. Gunakan mode malam di perangkat Anda, atau lebih baik lagi, ganti aktivitas layar dengan membaca buku fisik, meditasi, atau rutinitas relaksasi lainnya.
4
Praktikkan mindfulness secara aktif. Studi University of Surrey secara spesifik menemukan bahwa intervensi mindfulness — termasuk meditasi terpandu dan latihan kesadaran penuh — berpotensi mengurangi risiko depresi di antara night owl secara signifikan.
5
Jaga konsistensi jadwal tidur-bangun. Variabilitas jadwal tidur dari hari ke hari terbukti sama berbahayanya dengan kurang tidur itu sendiri. Tetapkan waktu bangun yang konsisten, bahkan di akhir pekan.
6
Batasi alkohol, terutama di malam hari. Meski alkohol bisa membuat Anda ngantuk lebih cepat, ia secara signifikan mengganggu kualitas tidur dan memperburuk keseimbangan neurokimia yang berkaitan dengan suasana hati.
7
Pertimbangkan Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I). American Psychiatric Association merekomendasikan CBT-I sebagai terapi lini pertama untuk gangguan tidur, yang terbukti juga berdampak positif pada kesehatan mental secara keseluruhan.

Pesan untuk Para Night Owl: Ini Bukan Tentang Menyalahkan Diri

Penting untuk digarisbawahi bahwa menjadi night owl bukanlah pilihan sadar yang sembrono — ini adalah kecenderungan biologis yang nyata. Stigma dan rasa bersalah tidak akan membantu siapapun tidur lebih awal atau merasa lebih baik.

Yang penting adalah kesadaran berbasis bukti: memahami bahwa kebiasaan tidur larut malam membawa risiko nyata bagi kesehatan mental, dan ada langkah-langkah konkret yang bisa diambil. Bukan untuk “mengalahkan” chronotype Anda, melainkan untuk bekerja sama dengannya secara lebih bijak.

Dr. Evans menegaskan: “Hingga 50 persen anak muda adalah night owl, dan temuan penelitian kami menunjukkan bahwa strategi untuk mendorong mindfulness yang lebih tinggi, kualitas tidur yang lebih baik, dan pengurangan konsumsi alkohol akan memberi manfaat positif bagi kesehatan mental mereka — terutama mengingat tingginya tingkat depresi di kalangan anak muda saat ini.”

Kesehatan mental dan kualitas tidur adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Memulai perjalanan menuju pola tidur yang lebih sehat bukan berarti Anda harus menjadi “morning person” dalam semalam. Cukup mulai dengan satu langkah kecil — dan mungkin, malam ini, tutup layar Anda 30 menit lebih awal dari biasanya.

Kesimpulan Riset dari University of Surrey (2025) dan Stanford University menegaskan: tidur larut malam secara konsisten — terutama setelah tengah malam — dikaitkan dengan risiko depresi yang jauh lebih tinggi, terlepas dari apakah itu sesuai chronotype Anda atau tidak. Mekanismenya melibatkan kualitas tidur yang buruk (terutama pengurangan REM sleep), tingkat mindfulness yang lebih rendah, dan konsumsi alkohol yang lebih tinggi. Kabar baiknya: semua faktor ini dapat diperbaiki melalui intervensi yang terarah.
Referensi & Sumber
  • Yatagan Sevim G, Law TY, Evans SL (2025). Mindfulness mediates the association between chronotype and depressive symptoms in young adults. PLOS ONE 20(3): e0319915.
  • Lok R, Weed L, Winer J, Zeitzer JM (2024). Perils of the nighttime: Impact of behavioral timing on mental health in 73,888 adults. Psychiatry Research.
  • Meyer N et al. (2024). The sleep–circadian interface: A window into mental disorders. PNAS. DOI:10.1073/pnas.2214756121.
  • University of Surrey — surrey.ac.uk/news/why-are-night-owls-greater-risk-depression
  • Stanford University Medicine — med.stanford.edu
  • Psychology Today — Why Are Night Owls More Likely to Be Depressed? (April 2025)
  • Neuroscience News — Higher Depression Risks for Night Owls (March 2025)
  • American Psychiatric Association — psychiatry.org/news-room

Artikel ini disusun berdasarkan tinjauan literatur ilmiah peer-reviewed dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran medis profesional.
Jika Anda mengalami gejala depresi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan mental berlisensi.

© 2026 · Kesehatan Mental & Ilmu Tidur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *