3 Alasan Ilmiah Mengapa Mewarnai (Adult Coloring) Bisa Menenangkan Otak
Bukan cuma hobi anak-anak — ini yang sebenarnya terjadi pada otak saat orang dewasa mewarnai
Dalam beberapa tahun terakhir, buku mewarnai untuk orang dewasa — lengkap dengan motif mandala, bunga, dan satwa yang rumit — memenuhi rak toko buku, supermarket, hingga marketplace online. Tren ini sering dibingkai sebagai bentuk “self-care” instan. Tapi benarkah mewarnai punya efek menenangkan secara ilmiah, atau ini sekadar tren pemasaran yang dibungkus kata “mindfulness”?
Pertanyaan ini pernah dijawab langsung oleh psikolog klinis Scott M. Bea, PsyD dari Cleveland Clinic. Menurutnya, efek menenangkan dari mewarnai bukan kebetulan — ada mekanisme psikologis yang cukup jelas di baliknya, dan beberapa penelitian di bidang psikologi serta art therapy mendukung klaim tersebut. Berikut tiga alasan utama mengapa aktivitas sederhana ini bisa membuat otak yang lelah jadi lebih rileks, ditambah berbagai insight dari sumber-sumber kesehatan mental tepercaya lainnya.
Mengapa Aktivitas Sesederhana Mewarnai Bisa Berefek Besar pada Pikiran?
Sebelum membahas tiga alasan utamanya, penting untuk memahami satu prinsip dasar: otak manusia cenderung tegang ketika perhatian terus-menerus tertuju pada diri sendiri — pada kekhawatiran, daftar pekerjaan yang menumpuk, atau percakapan internal yang tak kunjung selesai. Dr. Bea menyebut mewarnai sebagai aktivitas yang menuntut “perhatian sedang yang terarah ke luar kesadaran diri”. Dengan kata lain, ini sejenis aktivitas yang menarik fokus kita keluar dari kepala sendiri — sama seperti memotong rumput, merajut, atau berkendara santai di hari Minggu.
1. Perhatian Beralih Keluar dari Diri Sendiri
Saat kamu mewarnai, perhatian secara otomatis tertarik ke hal yang sangat konkret: garis mana yang perlu diisi, warna apa yang akan dipilih selanjutnya, seberapa rapi tarikan crayon di atas kertas. Aktivitas sekecil ini menarik fokus menjauh dari dirimu sendiri — dan dari hal-hal yang sedang membuatmu stres — lalu mengalihkannya ke peristiwa yang terjadi di saat ini. Dr. Bea menyebut proses ini “sangat menyerupai latihan meditasi”, karena keduanya sama-sama melatih perhatian untuk tetap berada di momen sekarang, bukan melayang ke masa lalu atau masa depan.
2. Otak Jadi Lebih Rileks Karena Tidak “Diganggu” Pikiran Sendiri
Ketika pikiran terpusat pada aktivitas sesederhana mewarnai, otak cenderung melambat dan menjadi lebih tenang. Dr. Bea menjelaskan bahwa pada momen ini, seseorang “tidak terganggu oleh pikiran dan penilaian dirinya sendiri” — beban hidup yang biasanya terus berputar di kepala perlahan menguap dari kesadaran, dan baik tubuh maupun otak menganggap kondisi ini sebagai sesuatu yang menenangkan. Inilah sebabnya banyak orang menggambarkan sesi mewarnai sebagai momen “jeda otomatis” dari kepenatan harian, tanpa perlu teknik relaksasi yang rumit.
3. Risikonya Rendah, Jadi Terasa Menyenangkan — Bukan Beban
Berbeda dari pekerjaan atau tugas yang punya target dan tenggat waktu, hasil mewarnai tidak bisa diprediksi atau dituntut harus sempurna. Kamu bebas mewarnai serapi atau seberantakan yang kamu suka — dan justru di situlah letak efek relaksasinya. Dr. Bea menegaskan, “sangat sulit untuk gagal dalam mewarnai, dan bahkan jika gagal pun, tidak ada konsekuensi nyata.” Aktivitas ini menjadi semacam pelarian yang menenangkan, bukan ujian lain yang menuntut kemampuan kita.
Apa Kata Penelitian? Tidak Semua Studi Sepakat 100%
Riset khusus mengenai adult coloring memang masih relatif terbatas karena tren ini baru naik daun dalam dekade terakhir. Namun, art therapy sudah lama digunakan dan terbukti membantu berbagai kondisi seperti depresi, kecemasan, kecanduan, hingga trauma. Berikut beberapa temuan menarik dari berbagai studi dan ulasan ahli:
📋 Studi pada Pasien Kanker (2006)
Penelitian menemukan bahwa terapi seni berbasis mindfulness pada perempuan dengan kanker secara signifikan menurunkan gejala distres fisik maupun emosional selama masa pengobatan mereka.
📋 Mewarnai Mandala vs Kecemasan
Sejumlah studi pada mahasiswa menemukan bahwa mewarnai motif geometris kompleks seperti mandala dapat menurunkan tingkat kecemasan dan menciptakan kondisi mirip meditasi. Pada studi lain dengan 120 lansia, 20 menit mewarnai mandala terbukti meredakan kecemasan secara signifikan dibanding mewarnai motif kotak-kotak sederhana, menggambar bebas, atau membaca.
📋 Studi pada Mahasiswi (2017)
Sebanyak 104 mahasiswi dibagi ke kelompok mewarnai dan kelompok mengisi teka-teki logika selama satu minggu. Kelompok yang mewarnai melaporkan penurunan kecemasan dan gejala depresi dibandingkan kondisi awal mereka.
Namun, perlu dicatat secara jujur: tidak semua studi memberikan hasil yang konsisten. Sebuah ulasan dari Psychology Today menyoroti adanya studi replikasi yang tidak menemukan perbedaan signifikan antara kelompok yang mewarnai motif kotak-kotak dan halaman kosong — meski kelompok mandala tetap menunjukkan penurunan kecemasan. Artinya, jenis motif yang diwarnai (mandala dan pola yang lebih kompleks) tampaknya punya peran penting dalam efektivitas relaksasi, bukan sekadar tindakan “memegang krayon” itu sendiri.
Kenapa Hobi Lawas Ini Justru Makin Populer Sekarang?
Memiliki hobi untuk meredakan stres sebenarnya bukan hal baru — ada yang memilih berkebun, memasak, merakit miniatur, atau membuat scrapbook. Namun di tengah ritme hidup modern yang serba cepat dan penuh notifikasi, banyak orang mencari aktivitas screen-free yang sederhana namun terasa “menyembuhkan”. Menurut Dr. Bea, hal ini berkaitan dengan budaya yang penuh tekanan: orang-orang terus mencari cara baru untuk meredakan tegangan, memulihkan rasa sejahtera, dan mengurangi dampak buruk gaya hidup penuh stres terhadap kesehatan mereka.
🌙 Bantu Kualitas Tidur
Mewarnai sebelum tidur menggantikan waktu menatap layar ponsel, sehingga produksi melatonin alami tubuh tidak terganggu oleh cahaya biru.
🎯 Melatih Fokus
Aktivitas ini mengaktifkan area otak yang berperan dalam pengorganisasian dan pemecahan masalah, sehingga membantu melatih konsentrasi secara perlahan.
💤 Menurunkan Tanda Fisik Stres
Sejumlah laporan kesehatan mencatat penurunan detak jantung dan rasa lelah pada orang yang rutin mewarnai sebagai bentuk relaksasi.
Tidak Semua Orang Akan Merasakan Efek yang Sama
Menariknya, mewarnai tidak otomatis menenangkan semua orang. Menurut Dr. Bea, ketertarikan terhadap aktivitas ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Orang dewasa cenderung memilih bentuk rekreasi yang mereka sukai sejak kecil sebagai cara melepas penat di usia dewasa. Jadi jika dulu kamu menikmati mewarnai sebagai anak-anak, kemungkinan besar aktivitas ini juga akan terasa menyenangkan sekarang.
Sebaliknya, bagi sebagian orang, mewarnai bisa terasa membosankan atau malah menambah tekanan — terutama jika mereka merasa harus “menyelesaikannya dengan sempurna”. Ini wajar, dan bukan berarti ada yang salah. Kuncinya adalah menemukan aktivitas dengan karakteristik serupa: rendah risiko, melibatkan fokus pada satu hal konkret, dan tidak menuntut hasil akhir tertentu.
Tips Memulai Adult Coloring agar Manfaatnya Maksimal
- Pilih motif yang cukup kompleks. Mandala atau pola geometris cenderung lebih efektif menurunkan kecemasan dibanding motif yang terlalu sederhana atau kosong.
- Sisihkan waktu minimal 15–20 menit. Beberapa studi menunjukkan efek relaksasi mulai terasa signifikan setelah durasi tersebut.
- Jauhkan ponsel selama sesi mewarnai. Tujuannya agar otak benar-benar “checkout” sejenak dari notifikasi dan rangsangan digital.
- Jangan kejar kesempurnaan. Warnai sesukamu, bahkan kalau keluar garis — bagian inilah yang justru membuatnya terasa bebas dan rendah tekanan.
- Jadikan rutinitas, bukan sekali coba. Manfaat relaksasi cenderung lebih konsisten ketika dilakukan secara rutin, misalnya sebelum tidur atau di sela waktu istirahat kerja.
Kesimpulan: Aktivitas Sederhana, Manfaat yang Nyata
Mewarnai mungkin terlihat seperti aktivitas “remeh” yang biasa dilakukan anak-anak, tapi di balik kesederhanaannya, ada mekanisme psikologis nyata yang membuat otak orang dewasa jadi lebih tenang: perhatian yang teralih dari diri sendiri, pikiran yang tidak lagi “berisik”, dan rasa bebas karena tidak ada standar yang harus dipenuhi. Ditambah dengan dukungan berbagai studi tentang art therapy dan efek mandala terhadap kecemasan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa selembar kertas bermotif dan beberapa pensil warna bisa menjadi terapi mini yang terjangkau — sekaligus cara sederhana untuk pulang ke momen saat ini, jauh dari hiruk-pikuk pikiran yang berlarian.
Referensi:
Cleveland Clinic — health.clevelandclinic.org/3-reasons-adult-coloring-can-actually-relax-brain
Psychology Today — psychologytoday.com/us/blog/a-modern-mentality/201803/are-adult-coloring-books-actually-helpful
Healthline — healthline.com/health/mental-health/benefits-of-adult-coloring
Mayo Clinic Health System — mayoclinichealthsystem.org
WebMD — webmd.com/balance/features/cm/benefits-coloring-adults